Home » , » Kisah Kelahiran Rasulullah saw yang Menggemparkan

Kisah Kelahiran Rasulullah saw yang Menggemparkan

Belajar Al-Qur'an - Dua belas Rabiul awal tahun Gajah, merupakan saat paling berharga di sepanjang zaman peradaban manusia, termasuk bagi alam semesta raya ini, menyambut kehadirannya dengan berbagai reaksi alam yang menakjubkan. Sebuah kelahiran yang menggemparkan dunia, tak satu insanpun dimuka bumi ini yang terlahir kedunia ini dengan sebuah proses yang seluarbiasa kelahiran sang rasulullah. Salah satu pristiwa yang juga terjadi semasa kelahiran rasulullah adalah dengan pristiwa penyerangan pasukan Abhrahah ke Mekkah dalam rangka untuk menghancurkan ka’bah. Namun berkat kuasa-Nya, bangunan tersebut tetap terpelihara, agar manusia kelak di zaman-zaman selanjutnya dapat memahami dan mengerti maksud yang terkandung dan terselubung di balik makna ka’bah.


Nabi Muhammad saw

Di Al Qur’an, peristiwa penyerangan ka’bah ini diabadikan dalam Qs. Ke 105 (Al Fiil) yang berarti Gajah. Hal ini juga berkaitan erat dengan pengistilahan tahun kelahiran rasulullah adalah pada tahun gajah. Sedangkan dalam perhitungan masehi tahun gajah adalah setara dengan tahun 571. Dalam uraian dibawah ini akan diperlihatkan sebuah korelasi yang saling berkait diantara ke 2 nilai ini, yang pada akhirnya mengindikasikan tentang risalah (Al Qur’an) yang kelak akan disampaikan kepada Muhammad saw.

Nilai 105 bila ditambahkan dengan nilai 571 akan diperoleh nilai : 105 + 571 = 676. Sebuah angka yang unik, karena merupakan angka yang saling bercermin, 67 dan 76. Di Al Qur’an nilai 7 dihubungkan dengan jumlah ayat dari surat pertama di Al Qur’an yaitu Qs. 1 (Al Faatihah), sedangkan nilai 6 dihubungkan pula dengan jumlah ayat dari Qs. terakhir di Al Qur’an yaitu Qs. 114 (An Naas).

Jelas memperlihatkan sebuah korelasi yang erat dengan Al Qur’an bukan?
Dalam perhitungan lain, bila ke 2 nilai ini (67 dan 76) dihubungkan dengan Qs. 47 (Muhammad) dengan jumlah ayatnya 38, maka akan terlihat seperti skema dibawah ini :

Muhamad simbol qur'an

Kembali terlihat dengan penggabungan awal dari 2 variasi nilai yang terkait dengan tahun kelahiran rasulullah yaitu nilai 105 (Al Fiil/Gajah = tahun Gajah) dengan 571 (tahun masehi dari tahun gajah), dan menghubungkannya pula dengan Qs. Muhammad sangat jelas kaitannya dengan Al Qur’an, risalah yang akan diterimanya 40 tahun kemudian.

Al FATIHAH (Pembuka) dan RASULULLOH SAW

Qs. 1 Al Faatihah bermakna pembukaan, ternyata berhubungan erat dengan pristiwa kelahiran sang rasul (sang pembuka/pembaharu) peradaban manusia. Dalam penjabaran disini akan diperlihatkan hubungan antara variabel nilai yang terkait dengan pristiwa kelahiran sang rasul yaitu:

A. Tanggal Kelahiran : 12
B. Bulan Kelahiran : Bulan ke 3 (Rabiul Awal)
C. Tahun Kelahiran : Tahun Gajah (Qs. 105 Al Fiil / Gajah), tahun 571 (perhitungan masehi)

Al Fatihah dan Rasulullah saw

Sebuah kesempurnaan tiada tara. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, terkecuali hanya satu yang Maha Cerdas dan Maha Cepat Perhitungannya yang mampu melakukannya. Lantas apakah kondisi ini tak juga dapat “memelekkan” mata kita untuk mengakui tentang kedahsyatan numerik Al Qur’an, yang jelas-jelas merupakan sistematika yang sempurna dari Maha Karya dari “Tangan-tanganNya”?.
Nilai 571 dalam Juz ‘Amma.

Juz ‘amma dikenal sebagai Al Qur’an kecil, pada masa awal pembelajaran Iqra’ Al Qur’an selalu dimulai dengan pelajaran pembacaan di juz 30 ini. Seharusnya jumlah surat yang terkandung di juz ini adalah 37 surat, yaitu Qs. ke 78 (An Naba) sampai dengan Qs. 114. Namun pada kenyataannya yang terjadi acap kali Qs. 1 (Al Faatihah) dimasukkan kedalam juz ini. Kembali harus dikritisi keadaan ini, ada pesan apakah di balik ini semua? Memang begitulah manusia, harus selalu berupaya untuk mengkritisi dan bertanya serta memiliki rasa penasaran yang tinggi agar selalu memperoleh progres ilmu yang terus-menerus meningkat.

Dengan penambahan 1 surat yaitu Qs. Al Faatihah ke dalam juz ini, maka jumlah surat yang ada menjadi 38 surat. Sudah mulai terlihat sebuah keterkaitan dengan Qs. 47 (Muhammad) karena jumlah ayat dari Qs. 47 adalah 38 ayat. Selanjutnya bila ke 38 surat ini dijumlahkan keseluruhan ayatnya, maka akan diperoleh nilai sebagai berikut :

- Qs 78 (An Naba) sampai dengan Qs. 114 (An Naas) : 564 ayat
- Penambahahan satu surat yaitu Qs. 1 Al Faatihah      :     7 ayat
- Sehingga jumlah ayatnya menjadi 564 + 7 ayat          : 571 ayat

Semakin jelas korelasinya antara pembahasan disini dengan kelahiran sang rasul. Beliau adalah layaknya manusia biasa yang tentunya juga pernah mengalami masa kecil, lantas mengapa juz ‘ama + Qs. 1 Al Faatihah ini kerap diberik istilah Al Qur’an kecil? Subhanallah, sebuah “kebetulan” yang memang benar-benar terencana.

Nilai 571 dalam Ar Rahman

Tidak ada surat pun yang berjudul “Allah” sebuah bukti bahwa Allah di sini tak kan pernah terjangkau oleh alam fikir manusia. Perlu di informasikan, bahwa dalam kajian numerik disini tidak akan pernah mengurai tentang lafadz Allah (ﷲ), karena dalam mengkaji Al Qur’an pun harus ada “kode etiknya” sebagaimana perintah Allah yang kurang lebih berbunyi “jangan pernah usik-usik tentang DzatKu, pelajari saja tentang segala ciptaanKu”, sebuah pesan yang dapat dimaknai bahwa setiap pembahasan tentang diriNya, sejauh apapun akal ini mampu menggambarkanNya atau mendefinisikanNya tetap saja belum dapat mewakili tentang diriNya yang sebenarnya. Sehingga dengan pemahaman dan keyakinan ini, dalam kajian numerik ini tak akan pernah dijumpai penguraian lafadz Allah (ﷲ). Sementara beberapa pengkaji Al Qur’an lainnya (yang tentu memiliki argumentasi tersendiri) menguraikan lafadz Allah (ﷲ) menjadi 4 abjad yaitu Alif, lam, lam dan ha). Perbedaan ini tak perlu diperdebatkan karena masing-masing metode tentu mempunyai landasan teori dan argumentasinya. Yang jelas, Al Qur’an sebagai sumber ilmu, sangat tak terbatas khasanah ilmunya, dengan menyalahkan metode pengkajian lain berarti mempersempit khasanah ilmu Al Qur’an itu sendiri.

Diantara 114 surat, Allah mewakili diriNya (menjadi judul surat) dengan salah satu asmanya (Asma ul Husna pertama) yaitu Ar Rahman , yang terletak pada posisi Qs. ke 55. Ada keunikan dalam surat ini, yang bila diuraikan akan diperoleh 3 variasi huruf yaitu :

-> Alif Lam Ra : اﻠﺮ
-> Haa Mim : ﺤﻣ
-> Nun :

Di dalam Al Qur’an ada 5 Surat yang di awali dengan Alif Lam Ra : اﻠﺮ yaitu :

-> 10 Yuunus
-> 11 Huud
-> 12 Yuusuf
-> 14 Ibrahim
-> 15 Al Hijr

Kemudian ada 7 surat yang di awali oleh Haa Mim ( ﺤﻣ ) yaitu :

-> 40 Al Mu’min
-> 41 Hamin As Sajdah
-> 42 Asy Syuraa
-> 43 Az Zukhruf
-> 44 Ad Dukhaan
-> 45 Al Jaatsiyah
-> 46 Al Ahqaaf

Dan di akhiri dengan satu surat yang di awali dengan huruf Nun (ﻥ ), yaitu Qs. ke 68 (Al Qalam).

Dengan pengelompokkan ini maka diperoleh variabel pengelompokan dengan formasi 5-7-1. Mengingat korelasi nilai 571 sebagai tahun kelahiran rasulullah dan memperhatikan makna Ar Rahman yaitu Yang Maha Pengasih, serta dihubungkan pula dengan 31 ayat yang di ulang-ulang di Qs. 55 (Ar Rahman) yaitu :

 “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Lafadz pada ayat ini diulang-ulang sebanyak 31 kali, pada ayat ke : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77

Jelas terlihat di sini, bahwa dari 31 kali pertanyaan Allah pada surat ini adalah mempertanyakan “rasa syukur” seluruh manusia tentang nikmat diturunkanNya rasulullah dan Al Qur’an kemuka bumi ini, sehingga kurang lebih pertanyaan-pertanyaan tersebut bermakna :

Nikmat Allah mana lagikah yang engkau dustakan (setelah Aku turunkan kemuka bumi ini seorang yang bernama Muhammad saw?)”

“Nikmat Allah mana lagikah yang engkau dustakan (setelah Aku sampaikan Firman-firmanKu kepadanya?)”

“Nikmat Allah mana lagikah yang engkau dustakan (setelah Al Qur’an sampai kepada mu, wahai manusia?)”

Dan seterusnya.. dengan berbagai kenikmatan yang tak terhingga atas kehadirannya sang Rasululllah ke muka bumi ini. Sehingga sudah sangat selayaknya beliau memiliki keutamaan sebagai rahmatan lil’alamin. Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (Qs. 21 Al Anbiyaa’ 107)

Dengan pengulangan sebanyak 31 ayat di dalam Qs. 55 (Ar Rahman) ini, maka tentu ada 47 ayat lagi yang bukan merupakan ayat pengulangan. Karena Qs. 55 (Ar Rahman) seluruhnya berjumlah 78 ayat. Nilai 47, jelas berkaitan dengan surat Muhammad, sehingga 31 ayat pengulangan pertanyaan Allah pada surat ini jelas-jelas tertuju kepada nikmat dihadirkannya rasulullah kemuka bumi ini, sekaligus nikmat Al Qur’an yang beliau terima sebagai mukjizat terbesar sepanjang masa. Lantas dalih apa lagikah yang dapat diutarakan untuk menampik nikmat dan kebenaran Al Qur’an? Berkenankah kita menjadi orang-orang yang tak mau mensyukuri kehadiran Muhammad saw dan diturunkanya Al Qur’an? Terlebih lagi, dengan kelancangan sebagian umat yang mengakui adanya nabi ke 26 setelah rasulullah, sebuah pengingkaran yang nyata terhadap nikmat luar biasa yang telah Allah anugerahkan (Muhammad saw dan Al Qur’an) kepada manusia.

Selain itu, formasi pembagian 31 ayat dan 47 ayat di surat Ar Rahman merupakan sebuah bukti tentang tidak mungkinnya ada seseorang yang dapat menandingi kesempurnaan rasulullah, jangankan menandingi, untuk mendapatkan kesetaraan dengan beliaupun sangat tak mungkin terjadi. Pemahaman ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Di dalam surat Ar Rahman terdapat 31 kali pengulangan ayat. Nilai 31 ini bila disetarakan sebagai jumlah ayat sebuah surat, maka juga merupakan jumlah ayat dari Qs. 76 (Al Insan/Manusia). Sedangkan bila nilai 31 dikonversikan menjadi nomor surat, adalah Qs. 31 (Luqman) sebuah simbol kebijaksanaan, walaupun ia bukan seorang nabi, namun karena kebijaksanaan dan ketinggian akhlaknya merupakan sosok yang patut disuritauladani. Ini sebuah indikasi bahwa sesempurna-sempurnanya manusia (Qs. 76, Al Insan), ia hanya akan mampu memperoleh tingkatan menjadi seseorang yang arif dan bijaksana (Qs. 31, Luqman), dan tetap tak mungkin bisa dikategorikan sebagai nabi, apalagi setara dengan rasulullah.

Sedangkan 47 ayat selebihnya, yang bukan merupakan ayat-ayat pengulangan, mengandung pesan bahwa sosok sempurna yang harus dijadikan sebagai parameter dalam proses pencapaian sebuah kearifan dan kebijaksanaan, adalah rasulullah sendiri, Muhammad saw (Qs. 47), termasuk dengan seluruh nilai-nilai qur’ani yang dimilikinya. Nilai 47 hanya dapat dikonversikan sebagai nomor surat dan tidak bisa menjadi jumlah ayat, karena dari 114 surat di Al Qur’an tak ada satupun yang berjumlah 47 ayat. Ini kembali merupakan sebuah bukti bahwa tak ada satu insan pun dimuka bumi ini yang dapat menyamai apalagi melebihi seluruh kriteria yang dimilikinya. Atau dengan kata lain, tak akan mungkin ada satu manusia pun setelah beliau yang mampu menggantikan posisi kerasulannya, mustahil ada nabi setelah dirinya.

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Qs. 33 Al Ahzaab 21)

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. 33 Al Ahzaab 40)

Doa Nabi Ibrahim as

Dalam ayat ke 127, 128 dan 129 di surat ke 2 Al Baqarah, dikisahkan ketika nabi Ibrahim as berdo’a dan meminta kepada Allah swt untuk mengutus seorang rasul bagi anak cucunya kelak, yang membawa kitab dan al hikmah. Kala itu nabi Ibrahim as dan anaknya Isma’l as berdoa setelah selesai melaksanakan pembangunan baitullah (ka’bah).

Ayat-ayat tersebut adalah :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Memang pada kenyatannya do’a tersebut dikabulkan oleh Allah. Terbukti dengan lahir rasulullah di Mekkah di kota tempat didirikannya ka’bah oleh leluhurnya, Ibrahim as. Seluruh ketentuan Allah dalam merencanakan pengutusan para nabiNya, memang telah diatur jauh-jauh sebelumnya, di kitabullah, Al Qur’an di Lauhi Mahuz, Allah adalah Maha Berencana. Namun dengan diabadikannya kisah pada ayat tersebut di Al Qur’an merupakan sebuah bukti bahwa Allah sangat menghargai ikhtiar dan do’a yang bersungguh-sungguh, apalagi dilakukan oleh seorang nabi seperti Ibrahim as.

Sementara orang mungkin berpendapat, apabila memang turunnya nabi Muhammad saw adalah “berkat” do’anya nabi Ibrahim, lantas apakah kalau tidak dido’akan beliau maka Muhammad saw tidak akan hadir dimuka bumi ini? Tidaklah demikian, bagaimana kalau pertanyaan itu dikembalikan lagi, bukankah nabi Ibrahim as melakukan do’a tersebut pun tak lepas dari kehendak Allah juga? Tak akan selesai permasalahan ini apabila terus dipertanyakan dan diperlebar, karena bila sudah menyentuh wilayah kehendak Allah, kemampuan akal manusia tak akan mampu mencernanya, salah-salah bisa terjebak pada asumsi-asumsi manusiawi yang pada akhirnya akan menjerumuskan manusia kepada pemahaman-pemahaman yang “menyeleweng” dari ketentuanNya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang telah diciptakan oleh Allah, dan manfaat apa yang bisa diraih dari hikmah tersebut serta bagaimana menindaklanjutinya menjadi sebuah sikap yang bermanfaat pula.

Salah satu hikmah yang dapat diambil dari peristiwa doanya nabi Ibrahim di atas akan diuraikan lebih lanjut. Di Al Qur’an surat Ibrahim tepat berada pada urutan surat ke 14. Dengan sebuah metode perhitungan yaitu sistem deret hitung, maka dari nilai 14 akan diperoleh nilai 105. Yaitu sebagai hasil dari penambahan nilai-nilai mulai dari 1 sampai dengan 14, yaitu : 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 + 11 + 12 + 13 + 14 = 105. Sebagaimana sudah diketahui 105 adalah nomor surat dari Qs. Al Fiil (Gajah), surat yang menggambarkan tentang sebuah pristiwa penyerangan ka’bah oleh pasukan gajah (pasukan Abrahah), dimana pada tahun itu pula sang rasulullah Muhammad saw dilahirkan. Sebuah konektifitas yang jelas antara doa nabi Ibrahim as (yang meminta untuk diutusnya seorang rasul bagi anak cucunya) dengan kelahiran Muhammad saw.

Pada uraian-uraian sebelumnya juga sudah disampaikan tentang hubungan nabi Ibrahim as dengan ka’bah, yaitu nabi Ibrahim (nabi ke 6) dan ka’bah yang memiliki 6 sisi. Sebuah “kebetulan” yang direncanakan Allah. Selanjutnya bila nilai 6 kembali di deret hitungkan maka akan diperoleh nilai :1+2+3+4+5+6= 21 (Qs. 21, Al Anbiyaa’/Para Nabi). Terbukti melalui 2 keturunannya yaitu nabi Isma’l as dan Ishaq as, 17 nabi kembali diangkat oleh Allah swt. Sehingga ada 19 nabi (setelah nabi Ibrahim as) di utus ke muka bumi ini. Sudah dijelaskan pula bahwa nilai 19 ini terkait pula dengan jumlah rusuk bangunan ka’bah. Bila nilai deret hitung 6 yaitu 21 ditambahkan dengan 19, maka akan didapat nilai 40. Lantas apakah ini memang sebuah “kebetulan lagi” karena ternyata Muhammad saw diangkat menjadi rasulullah pada usia 40. Bukankah dari hasil perhitungan di atas sangat jelas keterkaitan antara do’a nabi Ibrahim as dengan kelahiran Muhammad saw? Bahkan sampai usia pengangkatan kerasulannya pun “dijawab dan dikabulkan” Allah dengan begitu sistematisnya?

Kisah singkat perjalanan Rasulullah

Sebenarnya, uraian ini telah ada pada paparan sebelumnya, namun ada baiknya diulang kembali. Mengingat materi ini masih sangat erat kaitannya dengan pembuktian tentang keabsahan Muhammad saw dan Al Qur’an.
Bila diperhatikan mulai surat ke 105 (Al Fiil / Gajah / tahun kelahiran rasulullah) sampai dengan surat ke 113, jelas terlihat sebuah keterkaitan yang dapat menggambarkan tentang sejarah singkat nabi Muhammad saw. Lengkapnya surat-surat tersebut adalah :

Muhammad adalah Al-quran

  • Rasulullah dilahirkan pada tahun Gajah (Qs. 105, Al Fiil). Dan beliau berasal dari kaum Quraisy (Qs. 106, Al Quraisy). Sebelum diangkat menjadi rasul beliau dikenal sebagai orang yang sangat dipercaya (Al Amin) dan berguna bagi masyarakatnya (Qs. 107, Al Ma’un). Kemudian Muhammad mendapatkan wahyu, sebuah pemberian yang tak ternilai (Qs. 108 Al Kautsar). Wahyu tersebut disampaikan kepada masyarakat Mekkah, tetapi sebagian besar mereka menolak ajakan Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan memilih untuk tetap kafir (Qs. 109, Al Kafirun). Penolakan mereka kemudian berkembang menjadi kebencian dan keinginan memerangi Rasulullah. Tetapi Allah memberikan pertolonganNya (Qs. 110, An Nashr). Dalam salah satu peperangan Abu Lahab (Qs. 111, Al Lahab), salah satu tokoh yang sangat keras perlawanannya terhadap Rasulullah, tewas. Hampir semua peperangan berhasil dimenangkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin, sehingga Islam terus berkibar ke berbagai negeri. Beramai-ramai orang menyatakan syahadat, pengakuan akan keesaan Allah (Qs. 112, Al Ikhlash). Maka terbitlah fajar baru peradaban umat manusia (Qs. 113, Al Falaq).
  • Mungkin sementara pembaca akan bertanya, mengapa harus surat ke 105 menuju surat ke 113? Dimulai dari nilai 105 jelas karena diambil dari surat Al Fiil (Gajah) yang merupakan indikasi tentang tahun kelahiran Muhammad saw. Bila nilai 105 ini ditambahkan dengan nilai pada jumlah ayatnya yaitu 5, maka akan diperoleh nilai 105 + 5 = 110. Selanjutnya nilai 110 (An Nashr) kembali dijumlahkan dengan jumlah ayatnya maka akan diperoleh nilai 110 + 3 = 113. Sampai disini perhitungan tidak dilanjukan lagi karena apabila nilai 113 kembali ditambahkan dengan jumlah ayatnya maka akan diperoleh nilai 118, yang merupakan nilai di atas 114 atau dengan kata lain telah di luar konteks nomor surat di Al Qur’an. Akan tetapi apabila nilai 118 ini dikonversikan sebagai sebagai jumlah ayat, maka ia adalah merupakan jumlah ayat dari surat ke 23 (Al Mu’minun).
  • Dengan perolehan nilai 23 (Al Mu’minun) ini mengindikasikan, bahwa setelah terbitnya fajar baru bagi peradaban umat manusia, maka tujuan akhir dari pada diturunkannya rasulullah kemuka bumi ini adalah dalam rangka memperbaiki akhlak manusia, membentuk insan-insan muslim yang mukminin.
sumber : Syaiful Husein

Demikian pembahasan artikel mengenai Kisah Kelahiran Rasulullah saw yang Menggemparkan, semoga bisa bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung ke blog kami dan jangan lupa membaca artikel yang lainnya.

0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts