Tipe Karakter Juz 4 Al-Qur'an (Realistis dan Perayu)

Masih melanjutkan karakter diri manusia dari Al-Qur'an yang sebelumnya anda sudah membaca karakter juz 3 dan pada kesempatan ini kami berikan lanjutannya yaitu Tipe Karakter Juz 4 didalam Al-Qur'an. Mari kita simak bersama-sama dibawah ini.

Tipe Karakter Juz 4 Al-Qur'an


1. PROFIL

Juz ini terdiri atas dua surat yang sama-sama tidak utuh, yaitu surat ke-3 (Ali-Imran) 109 ayat, dan surat ke-4 (an-Nisaa) 23 ayat. Berikut daftar nama surat dan jumlah ayat pada juz 4 yaitu surah ke 3 Ali-Imran  (109)  92–200 dan surah ke 4 An-Nisaa (23) 1 – 23 jumlah ayat ( 132 ). Dari 30 Juz yang ada dalam al-Quran, hanya juz 4 dan juz 6 yang merupakan juz di mana tanda ’ainnya paling sedikit, yaitu ada 14.


2. KARAKTER JUZ 4

Juz 4 sandi tentang pasangan lelaki perempuan yang menyatu dalam suatu ikatan perkawinan, atau juga lambang dari sebuah keluarga atau suami-istri. Lambang dari sebuah komitmen dua insan yang ingin hidup bersama dalam suatu ikatan pernikahan. Perempuan dan laki-laki, dalam ajaran agama memiliki hak melakukan ritual secara berbeda. Pada juz ini, surat an-Nisaa hanya terdiri atas 23 ayat. Ini suatu sandi bahwa sebagai seorang pribadi, wanita hanya dapat atau berhak melakukan kegiatan ritual selama 23 hari dalam satu bulan (Qomariyah). Sedangkan sisanya, 7 hari untuk melakukan bersih diri. Jadi, dibuat rata-rata seorang wanita akan mengalami menstruasi selama 7 hari dalam sebulan. Dan selama itu pula ia dapat bebas dari kegiatan ritual.

Oleh karena juz 4 merupakan sandi tentang keluarga atau pasangan suami-istri, maka juz tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana ritual bagi seseorang yang mengalami keretakan dalam hubungan pernikahannya. Untuk mengikat kembali tali pernikahan, atau lebih tepatnya komitmen semula, yang telah mengalami keretakan, sese orang dapat membaca juz 4 secara rutin. Dalam batas tertentu, hubungan suami-istri yang ”tidak harmonis” yang disebabkan perbedaan persepsi, dapat diantisipasi dengan cara membaca juz 4, baik suami maupun istri. Artinya, jika keduanya memang sama-sama menginginkan adanya pemulihan kembali suasana keharmonisan rumah tangganya.

Surat Ali-Imran berisi 200 ayat, 91 ayat ikut juz 3, dan 109 ayat ikut juz 4. Pembagian ini nampaknya tidak seimbang. Tetapi apabila dimampatkan, angka-angka tersebut akan sama nilainya. Angka 109 = 10 = 1, dan angka 91 = 10 = 1. Angka 1 sama dengan (Alif) yang berarti pribadi atau otak. Ini berarti bahwa bahwa setiap unsur surat (dalam hal ini surat an-Nisaa) dalam suatu juz mengandung unsur kepribadian atau karakteristik tertentu. Dengan kata lain, juz ini sebuah gambaran mengenai pribadi seseorang.

Juz 4 juga lambang tentang peran ganda seorang wanita. Seorang juz 4, apabila ia wanita, dapat menjadi seorang ibu yang baik dalam memelihara anak-anaknya. Dalam dirinya telah terpateri suatu kodrat sebagai pendampig setia seorang laki-laki (suami). Dua surat yang berlawanan menjadi satu dalam dirinya. Ia seorang lelaki (Ali-Imran) dan sekaligus seorang wanita (an-Nisaa). Jika ia seorang lelaki, juga dapat berperan sebagai ibu terhadap anak-anaknya. Apa makna juz 4 dalam sebuah rumah tangga? Seorang ibu rumah tangga, ketika suami pergi berburu atau mencari nafkah di tempat yang jauh, ia dapat berperan sebagai seorang ayah terhadap anak-anaknya. Seorang juz 4 wanita, atau yang telah menjadi ibu dari anak-anak, ketika ia ditinggal ”mati” oleh suaminya, pada umumnya sangat ”sulit” untuk kawin lagi. Ia cenderung kemudian ber-peran sebagai ibu dan ayah sekaligus. Demikian juga sebaliknya, jika seorang juz 4 laki-laki.

Seorang juz 4 pada umumnya memiliki kelebihan atau kekuatan fisik yang begitu tinggi. Ia akan tetap sehat justru apabila tetap bergerak atau bekerja. Sebaliknya, jika menganggur, ia bisa jadi akan mengalami ”sakit-sakitan”. Dia tipe seorang pekerja tulen.

Cetak-tebal pada juz 4 ( Lantanaaluu). Ini berarti bahwa, pada suatu saat, seorang juz 4 menampakkan sikapnya yang begitu ”manja”, atau ketergantungan terhadap orang lain. Tetapi di saat yang lain, ia begitu tampak tegar dan mandiri. Di sinilah letak kontradiktifnya. Ketika sifatnya yang tegar muncul, maka egoismenya juga muncul. Ia begitu keras kepala. Tetapi begitu sikap kemandiriannya muncul, ia sangat lemah dan sangat tergantung pada orang lain. Namun demikian, seorang juz 4 dalam dirinya memiliki romantisme yang begitu tinggi. Ia gambaran tentang pertemuan antara dua insan yang berbeda jenis. Ketika kedua jenis manusia bertemu dalam satu kesatuan kasih dan sayang, maka yang akan muncul romantisme. Di samping, bahwa dialah orang yang memiliki kekuatan seksualitas ganda.

Namun demikian, seorang juz 4 sebaiknya tidak dikecewakan oleh hubungan ”kasih-sayang” lawan jenis. Misalnya, jangan sampai seorang juz 4 mengalami ”patah hati”. Sebab jika ini terjadi, lebih memungkinkan ia untuk mengkompensasikan kekecewaannya dalam bentuk ”selibat permanen” (membujang) terus, atau menjadi perawan seumur hidup. Dalam dirinya, ada mekanisme yang membuat ia dapat menjadi seorang laki-laki dan sekaligus perempuan, sehingga dapat membuat menjadi ”dingin” dalam masalah seksual. Karena sifatnya yang ganda, maka berbagai bidang dapat ia tekuni secara baik. Jika ia seorang wanita, akan sangat cocok untuk menjadi seorang wanita karir, yang sangat menekuni bidang kerjanya. Sebaliknya, ia juga mampu untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, dalam mendidik dan memelihara anak, maupun dalam ”melayani” suami. Namun demikian, ia bukanlah seorang wanita sejati. Sebab dalam dirinya terdapat unsur kelelakian (Ali-Imran).


3. KEILMUAN

Bila dipandang dari sisi keilmuannya, jadi juz 4 bisa digunakan untuk mengerti keadaan psikologis seseorang anak usia 4 th.. Pada juz itu ada dua kutub yang berlawanan berhimpun jadi satu. Angka 4 sama juga dengan huruf (Tsa) satu wadah dengan 3 titik. Hal semacam ini bermakna bahwa pada umur masuk 4 th., langkah memikirkan seseorang anak terlalu fokus disuatu wadah. Umpamanya, tempat tinggal dimana dia tinggal, bapak yang penyayang, ibu yang penuh kasih serta diri sendiri.

Bentuk hubungan di antara anggota keluarga akan terpateri di alam bawah sadarnya. Oleh karena itu, hubungan antara ayah (Imran) dan sang ibu (an-Nisaa) yang akrab dan serasi suatu cermin yang sangat dibutuhkan bagi pembentukan kejiwaan si anak pada usia ini. Apabila di dalam rumah, hubungan antara sang ayah dan ibu kurang serasi, apalagi terjadi perceraian, misalnya, maka kesan buruk akan tertanam pada diri si anak, dan tentu saja hal ini akan memiliki efek kejiwaan yang amat buruk pula.


4. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

Jika dilihat dengan sistem 11, maka kelemahan seorang juz 4 terletak pada bagian tulang dan atau paru-paru. Namun, kelemahan yang sering muncul dalam diri seorang juz 4 pada umumnya pada bagian betis kaki sebelah kiri. Juz pemampatan yang mirip dengan juz 4 adalah juz 13 dan juz 22. Oleh karena itu, sistem 11 juz 4 sama dengan juz-juz tersebut.

Kelanjutannya : Tipe Karakter Juz 5 Dalam Al-Qur'an. 

Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

sumber : Darul Qohar

Tipe Karakter Juz 3 (Pandai Berargumen, Bijak Mengambil Keputusan)

Melanjutkan dari artikel yang sebelumnya kami posting yaitu Tipe karakter Juz 2 yang pastinya saudara dan saidariku sudah membacanya. Sekarang kami akan memberikan ulasan yang selanjutnya yaitu Tipe karakter Juz 3. Mari Simak ulasanya dibawah ini. 



1. PROFIL

Juz ini terdiri atas dua surat yang masing-masing surat tidak utuh. Juz ini berisi 34 ayat dari surat al-Baqarah, dan 91 ayat dari surat Ali-Imran. Berikut daftar nama surat dan jumlah ayat pada juz 3 yaitu surat ke 2 Al Baqarah (Sapi Betina) dan surat ke 3 Ali Imron (Keluarga Imron) yang jumlah ayat keseluruhan itu ada 125 ayat. Berbeda dengan juz 2 yang benar-benar murni atau penuh dengan ayat-ayat, juz 3 memiliki kop surat di tengahnya, yaitu kop surat Ali-Imran. Jumlah tanda ’ain pada juz ini ada 17.


2. KARAKTER JUZ 3

Sosok seorang juz 3 dapat dibayangkan sebagai berikut. Dialah orang yang paling ”cerewet” dan mudah sekali angkat bicara. Meskipun, apa yang ia bicarakan jelas-jelas hanya ”omong-kosong”. Huruf pertama pada cetak-tebal ( Ta ), dan angka 3 itu sendiri juga ( Ta ) yang berarti THT. Dia lebih mendahulukan berbicara dari pada berbuat. Bahkan, dia bisa saja tubuhnya sama sekali tidak bergerak, atau sama sekali tidak mengerjakan sesuatu, tetapi hanya cukup berbica ra saja sudah puas. Dengan kata lain, kepuasan (target) bagi dirinya apabila ia dapat ”ngoceh” sebanyak-banyaknya dengan orang lain. Tetapi keunikannya, ia dapat menyimpan rahasia dengan baik. Artinya,  meskipun ia cerewet, tetapi ia dapat memegang amanah dengan baik. Ia dapat dipercaya, misalnya untuk menyimpan rahasia atau informasi. Karena kekuatannya pada THT, maka dialah orang yang paling lemah segi psikomotoriknya, atau dalam segi operasional.

Surat al-Baqarah bagi juz 2 memiliki makna ”kelemahan” segi ”psikologis” atau mentalitas, yaitu perasaan tipis atau mudah tersinggung. Sedangkan surat al-Baqarah bagi juz 3 memiliki makna kelemahan dalam segi fisik, sebagaimana seorang juz 1. Oleh karenanya, surat al-Baqarah kemudian diikuti oleh surat Ali-Imran. Surat ini gambaran seorang laki-laki yang benar-benar jantan, Di samping itu, ia lambang dari sebuah keluarga yang merupakan bibit unggul, atau ”keturunan”.

Hal ini berarti, jika surat al-Baqarah muncul dalam diri seorang juz 3, maka ia benar-benar menjadi orang yang lemah secara fisis, dan hanya bisa berbicara. Tetapi di sisi lain juga terdapat sifat kontradiktifnya. Apabila surat ali-Imran muncul, maka ia tipe orang yang giat bekerja. Memang, jika diamati secara teliti, setiap juz (orang) dalam dirinya memiliki sifat-sifat yang bernada kontradiktif. Dan karena itu, jika diamati dan diinterpretasi secara jujur maka setiap juz juga merupakan gambaran sosok seorang pribadi yang di dalamnya terdapat karakter yang kontradiktif. Di satu pihak terdapat kecenderungan ke arah plus, tetapi di pihak lain terdapat unsur karakteristik yang mengarah pada sebaliknya.

Demikian misalnya, seorang juz 3 ada yang menampilkan sifatnya yang begitu lemah secara fisis dan hanya bisa berbicara melulu, tetapi ada juga seorang juz 3 yang benar-benar tipe pekerja keras, tanpa suka ”ngomong”. Ini berarti, tipe pertama hanya menampilkan surat al-Baqarahnya, sedangkan tipe kedua hanya menampilkan surat Ali-Imrannya. Surat Ali-Imran bagi juz 3 dapat juga berarti bahwa ia memiliki kelebihan dalam segi fisis. Ialah gambaran seorang bapak yang benar-benar kuat dan berpenampilan ”jantan” dan kuat. Karena itu, surat dapat dipakai sebagai upaya spiritual untuk mengantisipasi gejala ”pengapuran” pada tubuh (tulang) manusia, terutama pada usia di atas 30 tahun. Apabila dibaca dengan suatu ”sistem tertentu”, surat ini dapat dipakai untuk menyembuhkan sakit pada bagian tulang belakang.

Surat Ali-Imran merupakan lambang ”keluarga” yang menurunkan anak-anak sehat dan cerdas. Ali-Imran ayah Maryam, seorang yang kemudian melahirkan seorang Isa. Setiap orang dapat menderivasi ”keilmuan” Imran dalam dirinya, yaitu ilmu mengenai ”genetika”, dan bagaimana menurunkan anak-anak yang cerdas dan sehat, Karena itu, sejak bayi dalam kandungan usia 4 bulan 2 hari, sebaiknya harus sudah ”dipantau” juznya, dan kemudian mulai dibacakan juznya secara rutin. Apabila ini dilakukan, maka ia dapat mengadopsi keilmuan Imran, yaitu mendidik anak sejak dari dalam kandungan.

Mendidik anak sejak dari masa kandungan tidak hanya dengan cara kedua orang tuanya berperilaku ”moril”, tetapi juga rajin membacakan juznya secara rutin.


3. KEILMUAN

Jika juz 3 ini dipakai untuk menganalisis kondisi psikologis perkembangan anak, maka kita dapat melihat perkembangan anak pada usia 3 tahun. Pada usia anak mencapai 3 tahun, dalam dirinya sedang terjadi proses pembentukan kadar darah yang sesuai dengan organ badannya. Pada usia inilah awal dari pembentukan postur tubuh seorang anak. Sebagai awal pembentukan postur tubuh, maka seorang anak pada usia ini sangat memerlukan darah murni berkadar tinggi yang dibentuk oleh makanan yang bergizi.

Menurut ilmu kedokteran maupun ilmu agama, seorang anak pada usia 3 tahun tidak boleh lagi menyusu kepada ibunya karena dikhawatirkan proses proses pembentukan kadar darah menjadi tidak sempurna. Di sinilah terlihat suatu pesan, kenapa al-Baqarah digandeng dengan Ali-Imran yang laki-laki, dan tidak kepada an-Nisaa yang perempuan. Kita semua tahu bahwa tidak ada laki-laki yang dapat menyusui anak. Karena pada usia 3 tahun seorang anak tidak lagi menyusu kepada ibunya, maka yang bertanggungjawab untuk menyediakan susu bagi si anak Ali-Imran selaku ayahnya.

Pada usia ini seorang anak sering memperlihatkan rasa kerinduan terhadap belaian dan kasih sayang seorang ayah. Dia ingin selalu ikut kemanapun ayahnya pergi, bahkan jika tidurpun anak pada usia ini ingin dalam pelukan sang ayah.


4. KELAMAHAN DAN KELEBIHAN

Kelemahan dan atau kelebihan seorang juz 3 terletak pada bagian THT dan atau darah. Kelemahan lain, dapat terjadi pada bagian punggung (pundak sebelah kiri). Siapapun, yang terlalu banyak berbicara, maka akan merasakan sakit-sakit pada bagian punggung sebelah kiri. Sistem 11 juz 3 dapat dilihat pada juz 12, 21 dan 30, sebab juzjuz tersebut juga merupakan juz pemampatan dari juz 3. Dalam masyarakat kita orang yang berjuz 3 juga relatif ”langka”. Dan bukan berarti tidak ada.

Kelanjutannya : Tipe Karakter Juz 4 Dalam Al-Qur'an

Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

sumber : Darul Qohar


Metode FSQ Dalam Perspektif 'Ulumul Qur'an

Fsq Daqa Seroja - Hasil dari riset beberapa literatur Ulumul Qur'an, ternyata ada keterkaitan antara FSQ dengan salah satu cabang Ulumul Qur'an. Ada dua sudut pandang antara FSQ analisis kajian format dan struktur Al-Qur'an dalam persepektif 'Ulumul Qur'an.

Metode FSQ Dalam Perspektif 'Ulumul Qur'an

PERTAMA : Sebagai bagian dari salah satu cabang ilmu Al-Qur'an 'Ilmu I'jaazil Qur'an
KEDUA : Sebagai bagian dari salah satu cabang ilmu Al-Qur'an 'Ilmu Munasabatil Qur'an

A. 'Ilmu I'Jaazil Qur'an

Al-Qur'an terbangun atas 8 unsur, salah satunya adalah "Al Mu'jiz", yang artinya mengandung mukjizat. Menurut As Suyuti, para ulama yang menekuni dan mengarang kitab tentang ilmu I'Jaazil Qur'an (Ilmu tentag sisi sisi kemukjizatan A-Qur'an) Diantaranya : Al Khuthaby, Fachrudin Ar Razy, Abu Bakar Al Baqilany, Ibnul Araby dan lainnya. Ulama ulama klasik inilah yang mengilhami pencetus metode FSQ untuk mempelajari Al-Qur'an sebagai I'Jaazil Qur'an dari sudut pandang format dan struktur.

Tentu mengacu pada Al-Qur'an standar kajian, yaitu Al-Qur'an format 18 baris. Salah satu hikmah yang bisa digali dari kajian ini, yaitu tentang manusia naik secara fisik dan non fisik, pejalanan hidup secara psikologis, menjelaskan tentang sholat, alam semesta beserta isinya dan masih banyak hikmah yang lainnya, juga variabel-variabel yang menyusun Al-Qur'an antara lain, Manzil, Juz, Surat, Ayat, dan sebagainya. 

B. Ilmu Munasabatil Qur'an

  1. Tauqify, yaitu variabel yang bentuk dan urutanya berdasarkan ketentuan atau instruksinya dari Nabi Muhammad SAW dari Jibril as secara langsung. Antara lain Ayat (kumpulan kata yang mempunyai awal dan akhir, termasuk bagian dari surat tertentu) sebanyak 6236 ayat dan Surat (kumpulan ayat yang mempunyai judul tertentu) sebanyak 114 surat.
  2. Ijtihad, yaitu variabel yang bentuk dan urutanya berdasarkan hasil ijtihad sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut baik atas instruksi Nabi SAW atau tidak. Misalnya Manzil (pembagian AlQur'an menjadi 7 bagian), Juz (pembagian Al-Qur'an menjadi 30 bagian), Halaman, Ain (Ruku' - marka) dan lain-lain.
Tentunya variabel satu dengan yang lainnya baik yang bersifat Tauqify mauoun Ijtihady saling berkaitan atau berhubungan untuk membentuk sebuah konstruksi Al-Qur'an. Hubungan antar variabel Al-Qur'an inilah yang menjadi obyek dari pembahasan ilmu Munasabatil Qur'an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang hubungan atau korelasi antar variabel Al-Qur'an

- Tafsir Ilmiah Al-Qur'an

Al-Qur'an Al Karim, sebuah kitab yang sempurna, baik dari segi penempatan ayatnya yang sistematis, peletakan urutan surah sampai berapa banyak ayat untuk masing-masing surah. Oleh karenanya Al-Qur'an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dasn sifat. Keontetikan A;-Qur'an dijamin oleh Alloh, dan ia adalah kitab yang selalu terpelihara.

-Tafsir Isyari, Struktur dan Format

Tergerak oleh perintah Allah melalui Al-Qur'an agar manusia memikirkan dan mempelajarinya, dan tidak sekedar mengikuti nenek moyang, maka pencetus metode Format dan Struktur Al-Qur'an (FSQ) berupaya menafsirkan Al-Qur'an melalui format dan strukturnya. Pengamatan ini mengarah kepada variabel Al-Qur'an, dimana setiap variabel memiliki makna dan saling terkait satu sama lain.

Seperti kita ketahui bahwa Al-Qur'an yang dibukukan seperti sekarang ini, buka berdasarkan urutan atau kronologi turunnya wahyu, melainkan melalui perhitungan dan penempatan ayat dan surat berdasarkan bimbingan dari Allah SWT kepada Rasululloh SAW. Dimana turunnya sura dan ayat bersifat acak. Bukti bahwa Al-Qur'an disusun secara sistematis dan bukan kronologi dapat dilihat pada beberapa fakta, antara lain :
  • Ayat-ayat yang pertama kali turun tidak ditempatkan sebagai ayat yang mengawali penulisan Al-Qur'an, namun justru ditempatkan sebagai ayat 1 sampai 5 dari surat 96 Al-Alaq (secara keseluruhan berjumlah 19 ayat).
  • Tujuh ayat yang menjadi isi surah Al Fatihah ditempatkan sebagai pembuktian Al-Qur'an, padahal 7 ayat ini bukan ayat pertama kali diwahyukan.
Demikian ulasan kami mengenai Metode FSQ Dalam Perspektif 'Ulumul Qur'an, semoga bisa menjadikan kita mencintai dan mengamalkan apa saja yang sudah didalam Al-Qur'an. Terima kasih sudah berkunjung.

Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak

Fsq Daqa Seroja - Pada kesempatan kali ini saya membagikan ulasan artikel mengenai Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak, Pernahkan anda ingat saat anda kecil, kita mengaji Al-Qur'an dimulai dari Juz Amma'? Yaitu membaca surat terbesar hingga  ke nomor surat 78, (mulai dari surat ke 114 An Nass, 113 Al Falaq, 112 Al Ikhlas, hingga sampai surat ke 78 An Nabaa) tetapi tidak lupa selalu dimulai dengan surat ke 1 yaitu Al-Fatihah, mengapa membacanya tidak mulai nomor surat terkecil hingga ke nomor surat terbesar, mengapa demikian? Yuk simak penjelasan dibawah :

Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak


Kita lihat jumlah surat ke 1 yakni Al-Fatihah : Jumlah 7 Ayat
Kita lihat jumlah Juz Amma' yaitu : berjumlah 564 Ayat
Jadi kita jumlahkan jumlah ayat tersebut adalah 571 Ayat

Subhanallah, kita temukan angka 571 dalam penjumlahan ayat diatas, Dari postingan saya sebelumnya yang menyebutkan tentang angka tersebut. Nilai 571 itu menunjukan surat Ar-Rahman (Allah SWT), tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan Al-Qur'an. 

Hal ini menyiratkan bahwa mengaji pada waktu kecil adalah untuk pertama kali yaitu mengenal Ar Rahman (Maha Penyayang) yaitu Allah SWT, kemudian memperkenalkan figur Rasululloh Muhammad SAW sebagai suri tauladan, kemudian mengajarkan kecintaan kepada Al-Qur'an untuk senantiasa membaca, belajar mengaji, mengkaji, dan memahami, kemudian mengamalkan. Kita bisa melihat firman Allah dibawah ini.

"Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka". (QS. 3 : 191)

".... dan kami turunkan kepadamu Al kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS.16 : 89)

"Untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir". (QS.40 : 54)


Demikian pembahasan dari kami tentang Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak, semoga dapat diambil positif dan hikmahnya, jangan lupa baca artikel kami yang lainnya. Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

Popular Posts