Tipe Karakter Diri JUZ 2 (Jaga Penampilan dan Temperamental)

Lanjutan dari postingan sebelumnya dari materi Karakter Diri Juz 1 , sekarang melanjutkan materi pembahasan tentang Karakter Diri Juz 2 di Balik Al- Qur'an. Mari kita simak bersama sama.

Karakter Diri Juz 2

1. Profil

Juz ini hanya berisi satu surat yang tidak penuh, yaitu surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 142 hingga 252. Juz ini merupakan salah satu Juz yang jumlah ayatnya paling sedikit, yaitu sebanyak 111 ayat, dengan jumlah tanda ’Ain sebanyak 16. Juz lain yang jumlah ayatnya sama dengan Juz 2 adalah Juz 6. Surat yang jumlah ayatnya 111 juga ada dua, yaitu surat ke-12 (Yuusuf) dan surat ke-17 (Al-Israa). Berikut ini daftar atau gambaran nama surat pada Juz 2. Surat Al Baqarah dimiliki oleh 3 Juz, yaitu Juz 1, 2, dan 3. Dari Pembagian ini tampak bahwa Juz 2 tidak memiliki awal dan akhir surat, karena ia berada di tengah-tengah surat. 

Dalam Al Qur’an, ada dua Juz yang karakternya sama dengan Juz 2, yaitu Juz 5,yang berada di tengah-tengah surat An Nisaa. Jika Al Baqarah diibaratkan sebagai susu, maka Juz 2 ini bagaikan susu murni, yang tidak memiliki campuran apapun. Jika pada Juz 1, surat Al Baqarah bercampur dengan surat Al Fatihah, dan pada Juz 3 surat Al Baqarah bercampur dengan surat Al Imran, maka Juz 2 surat Al Baqarah benar-benar murni, dan tidak bercampur dengan surat manapun.



2. Karakter Juz 2

Huruf cetak-tebal pada ayat awal Juz ini (Syayaquulu). Dengan huruf cetak-tebal tersebut, maka seorang Juz 2 memiliki fisik yang sangat kuat. Namun, meskipun fisiknya kuat, seorang Juz 2 biasanya berperasaan amat ”cengeng” atau mudah sekali tersinggung, sebagaimana
juga Juz 20. Jika Juz 11 dan Juz 29 pada umumnya bersikap ”cuek”, maka Juz 2 dan Juz 20 pada umumnya tidak bisa ”cuek”.

Dialah satu-satunya orang yang sangat licik dalam pergaulan sehari-hari. Huruf ke-2 (Ba). Dalam kata ”Basmalah”, terdapat huruf pertama (Ba). Sedangkan kata tersebut dipakai untuk ”mengatasnamakan- diri” terhadap Tuhan. Dengan kata lain, kata ”Basmallah” juga dapat berarti ”atas nama Tuhan”. Seorang Juz 2, juga memiliki kepandaian ”mengatas-namakan” orang lain dalam menjelaskan sesuatu. Dia sangat pandai menggunakan ”kata si Anu”, ”kata si fulan”, dan sebagainya sehingga ia sendiri seolah hampir tidak pernah memiliki kata atau pikiran (pendapat). Jika kelincahan mengatas namakan orang lain dalam pembicaraan itu kemudian dipakai untuk tujuan tertentu, maka seorang Juz 2 sangat pandai dalam ”menghasut” orang. Bahkan, untuk mengadu domba pun dapat. Huruf ke 2 (Ba), yang artinya mata. Ini berarti juga bahwa seorang Juz 2 sangat lincah dalam membaca orang lain. Bahkan membaca sampai pada akar-akarnya pun ia mampu. 

Karena pada dasarnya ia seorang yang amat lemah segi mentalitasnya, maka ia tidak memiliki kepercayaan diri. Karena itulah, maka ia cenderung menggunakan nama orang lain sebagai ”tameng”.
Ia berlindung diri di balik ”kata orang”. Tetapi suatu saat, ia juga memiliki ”egoisme” yang membuatnya menjadi anti-dialog. Seorang juz 2 juga memiliki kecenderungan pada masalah pemurnian jiwa. Oleh karena itu, tidak heran jika seorang juz 2 kemudian aktif dalam kegiatan ilmu ”kebatinan”, atau hal-hal yang sifatnya ”olah-batin” atau ”olah-rasa”. 

Juz ini berisi ayat-ayat yang relatif panjang-panjang. Dan di tengah-tengah Juz tak terdapat kekosongan baris yang berisi nama surat. Ini juga dapat menunjukkan bahwa seorang Juz 2 memiliki
sifat yang inklusif, terbuka. Di samping sangat labil, mudah goyah, juga mudah terpengaruh dan terombang-ambing oleh situasi lingkungan sekelilingnya. Ia benar-benar hanyut oleh lingkungan sosial nya, hampir tak pernah punya pegangan. Bahkan ia hanya berpegang pada omongan orang lain, sehingga ia kehilangan jati dirinya. Memang, jika dilihat dari strukturnya, Juz ini hanya merupakan
bagian kecil dari sebuah surat panjang. Apabila ia menjadi seorang pekerja tulen, maka ia akan menjadi orang yang benar-benar kuat secara fisik. Jika ia menjadi seorang pemikir, maka pikirannya sangat inklusif dan mudah terpengaruh.

Tetapi, dalam masyarakat kita, orang yang berjuz 2 juga relatif jarang. Jika toh ada, dapat dipastikan bahwa ia lebih cenderung menampilkan kekuatan fisisnya, ketimbang segi intelektualitasnya. Karena kepercayaan dirinya yang lemah, maka seorang Juz 2 juga cenderung lambat, dan sangat ragu-ragu dalam menangani masalah. Dia selalu ”takut salah” dalam menangani atau mengerjakan sesuatu. Namun demikian, ia juga seorang yang tahan banting, dan ”kebal” dari lecehan orang. Apabila ia melakukan kesalahan, ia cukup siap untuk dilecehkan ataupun dimarahi. Meski demikian, ia tidak mudah frustasi.

3. Kelemahan dan Kelebihan

Di samping kelemahan segi mentalitas (perasaan), seorang Juz 2 memiliki kelemahan pada bagian mata dan hati (lever). Kelemahan lain terletak pada bagian lengan kanan. Sistem 11 Juz 2 sama dengan Juz 11, 20 dan 29. Sebab, Juz 2 juga merupakan Juz pemampatan dari Juz-Juz tersebut. Juz 2 juga memiliki kelebihan pada mata. Jika kelebihan ini muncul, maka ia dapat tidur berhari-hari. Ia dapat dengan mudah tidur dimanapun, dan dalam suasana apapun. Artinya ia dapat ”menyetel” bagian matanya sedemikian rupa sehingga tidak ada problema ”susah tidur”. Jika mata menjadi kelebihan, maka ia sangat jeli dalam mengamati segala sesuatu. Bahkan, ia cenderung tidak mudah percaya terhadap omongan orang lain. Setelah ia dapat melihat dan menyaksikan sendiri apa yang diceritakan orang, barulah ia percaya. 

Oleh karena itu, seorang Juz 2 juga biasanya cenderung menampakkan sifatnya yang ”bandel”, tak dapat dinasehati (”diomongi”). Setelah dia ”mentok” atau terbentur, barulah ia percaya pada omongan orang. Seorang Juz 2 sebaiknya dikondisikan untuk banyak membaca. Dengan maksud, agar kekuatan matanya mendapat akomodasi secara dini. Ia punya bakat untuk menjadi seorang pengamat, bahkan untuk memperbaiki onderdil yang kecil-kecil, pada saatnya ia mampu. Ia juga memiliki keterampilan pada bagian tangannya. Artinya, segi psikomotorik Juz ini, apabila dikembangkan secara optimal sejak kecil, dapat membuatnya menjadi seorang yang trampil dan jeli dalam menjalankan karirnya sebagai seorang ahli ”reparasi” segala macam perkakas.

Bersambung, dan dilanjutkan kemateri berikutnya. Silahkan baca artikelnya Karakter Diri Juz 3.

Tipe Karakter Diri JUZ 1 (Melayani dan Dilayani)

Lanjutan dari Postingan Sebelumnya yaitu tentang pembahasan atau penjabaran Karakter Diri Dibalik Juz Al-Qur'an. Sekarang masuk dalam pembahasan pertama yakni Karakter Diri Dalam Juz 1. Mari kita simak bersama sama.


Angka 1 berhuruf Alif. Ciri utama Alif adalah bila di depan tidak mau “menggandeng” huruf di belakangnya, tidak dapat menempati posisi tengah, bila di belakang maunya di gandeng ( sebagai guruf Mad ). maksudnya hanya dapat menempati awal dan  akhir rangkaian huruf..

Karakter seorang Juz 1, apabila seseorang Juz 1 berada di depan, misalnya menjadi seorang pemimpin ia cenderung bersikap egois, dan sangat otoriter, ia sangat mandiri dan berkesan tak butuh bantuan orang lain. Segala Keinginannya harus terpenuhi. Sebab ia merasa yang paling benar oleh karenanya harus di ikuti. Tetapi bila ia berada di belakang, ia sama sekali tidak memiliki pilihan, dia dapat dengan mudah menurut dan ikut pada siapa pun.

Juz 1 memiliki keunikan sendiri. Hal ini nampak pada ornamen halaman 2 dan 3 yang di bedakan dengan halaman lain Al Qur’an. Artinya seorang Juz 1 juga cenderung menuntut keistimewaan tertentu, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan atau bermasyarakat.

Jumlah  halaman Juz 1, lebih sedikit di banding dengan Juz lainnya ( 16 Halaman ). Sementara Juz 1 hanya 15 halaman. ia selalu merasa ada saja sesuatu yang kurang dalam dirinya, bahkan selalu tidak puas. Hal ini membuat ia kehilangan ” sesuatu ” dalam dirinya..

Juz 1 memiliki surat Al-Baqarah ( Sapi Betina ). Hal ini bisa berbanding terbalik dengan sifat berdasarkan huruf Alif yang cenderung tak butuh bantuan orang lain ( bila posisi hurufnya di depan huruf lain ). Jika sifat surat Al Baqarah dominan, orang Juz 1 memiliki rasa ketergantungan pada orang lain. Atau dengan Kata Lain, merupakan gambaran dari posisi huruf Alif yang terletak di belakang huruf tertentu.

Dalam kondisi tertentu, misalnya ketika dia sudah tidak tahu harus berbuat apa, terkadang terkesan pasrah jika orang lain ” memeras” jerih payahnya. Seolah-olah dia tidak memiliki pilihan dan tidak berkuasa untuk menolak jika seseorang berbuat demikian pada dirinya.

Pengaruh surat Al Baqarah ini membuat dirinya menjadi ” pelayan ” yang baik bagi orang lain, terutama keluarganya. Memberikan susu bagi anak-anaknya sekaligus pemelihara. Faktor surah ini pula membuat seorang juz 1 merupakan pekerja keras.

Al Quran Mushaf Utsmani format 18 baris memiliki karakteristik yang khusus. Dimana jumlah halaman dari Juz 2 sampai Juz 29 adalah sama, yaitu 16 halaman. Namun ada dua Juz yang jumlah halamannya berbeda, yakni Juz 1 dan Juz 30.

Juz 1 jumlah halamannya 15 sedangkan Juz 30 memiliki 21 halaman. Perbedaan jumlah halaman ini juga bisa menggambarkan karakter dari Juz yang bersangkutan. Karena halamannya kurang, membuat orang dengan Juz 1 selalu saja merasa ada sesuatu yang kurang pada dirinya atau bisa menjadi orang yang kurang percaya diri.

Di sisi lain, ia bisa menjadi seseorang yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah di capai. Bersambung materi selanjutnya baca Karakter Diri JUZ 2 (Jaga Penampilan dan Temperamental).

Ciri-Ciri Karakter Diri Di Balik Juz Al Qur'an

Al-Qur'an adalah kallamulloh , yakni pedoman hidup manusia di alam semesta ini. Kitab yang akan terjaga sampai hari kiamat, kitab petunjuk manusia. Kali ini akan membahas tentang Ciri-Ciri Karakter Diri Di Balik Juz Al Qur'an. Langsung kita simak bersama sama.


http://fsqdaqaseroja.blogspot.com/

” Manusia makhluk misteri ” ungkapan ini menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk dengan segala kompleksitas diri dan problematika hidupnya. Mempelajari manusia memang tidak akan ada habisnya, ketika kita menemukan jawaban tentang hakikat manusia akan muncul pertanyaan lainnya. Begitu seterusnya hal itu sekaligus menegaskan betapa susahnya manusia mengetahui hakikat dirinya.

Sebagai makhluk yang sempurna dengan ” KASTA ” tertinggi yang di sandangnya, semakin menambah pelik dan tingkat kesulitan yang luar biasa dalam mempelajari ” siapa manusia?” sebagai makhluk yang di angkat sebagai Khalifah di muka Bumi.

Upaya manusia dalam usahanya mengenal dan mencari jati dirinya sudah dimulai sejak zaman Yunani kuno. Bahkan, ada sebuah gambaran ketika manusia akan memasuki gerbang Dewa Apollo, kita akan menjumpai sebuah gerbang yang tulisan pada gerbang itu memiliki arti ” Kenalilah Dirimu “. Juga ada ungkapan lain yang mengatakan. ” Siapa yang mengenal diri, maka akan mengenal Tuhan”.

Berbagai upaya di lakukan manusia untuk mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, khususnya di Indonesia, sudah banyak metode yang di ciptakan untuk membuat seseorang ” lebih” mengenal jati dirinya. Namun semua itu menjadikan pertanyaan pada diri kita, apakah sebuah pencarian hakikat diri ataukah menuruti rasa penasaran yang ada pada diri setiap manusia? Apakah yang kita cari hanya mengikuti trend yang lagi marak tentang management diri, motivasi diri dan berbagai istilah yang lain?… Semua jawaban tentunya akan berpulang pada diri kita masing-masing.

Diantara sekian banyak manfa’at yang dapat kita rasakan dari Kajian Format dan Struktur Al Qur’an adalah untuk mengenal siapa diri kita dan orang lain dengan memakai pendekatan variabel yang ada dalam Al Qur’an. Memang metode ini tergolong baru yang belum banyak di kenal sekalipun oleh umat Islam sendiri.

Kami bisa mengerti karena begitu banyaknya metode untuk membantu manusia ” lebih ” mengenal dirinya sendiri, mulai dari horoskop, Feng shui, primbon, dan lain-lain. Bahkan di antara umat Islam telah dan lebih akrab dengan metode metode tersebut yang jelas-jelas tidak Qur’ani dan Islami.

Banyak cara atau metode dalam mengetahui manusia berdasarkan sifat bawaan yang di milikinya. Salah satunya adalah disiplin ilmu untuk mengenal dan mengetahui manusia yang kita kenal dengan ilmu Psikologi.

Lalu bagaimana Al Qur’an “menjawab tantangan ” tentang betapa sulitnya manusia mencari dan menemukan hakikat dirinya?…

Al Qur’an adalah petunjuk sekaligus pedoman hidup manusia. Bahkan tak jarang kita mengatakan bahwa Al Qur’an adalah sumber segala sumber Ilmu. Tentunya ilmu tentang manusia, baik dari sifat dasar setiap individu dan permasalahan yang ada, dapat diterangkan oleh Al Qur’an . Ringkasnya, ilmu psikologi manusia bisa di jelaskan melalui Al Qur’an.

Ternyata setelah melalui pengkajian yang dalam selama bertahun-tahun , (Alm) H. Lukman AQ Soemabrata, melihat sebuah kolerasi yang luar biasa antara surah-surah atau variable yang ada pada Al Qur’an berkaitan dengan karakter dasar manusia, atau dengan kata lain, beliau menemukan hikmah penyusunan Al Qur’an yang di bagi menjadi 30 JUZ. Bahwa setiap JUZ tersebut menjelaskan karakter setiap individu manusia.

Siapa sangka ternyata salah satu rahasia di balik surah, tanda ain, halaman Al Qur’an, halaman per JUZ dan variabel Al Qur’an lainnya dapat menjelaskan tentang karakter dasar manusia. Variabel-variabel itu sangat di perlukan dalam proses mengurai dan mengenali diri, semua itu tercakup dalam JUZ.

Demikian sekilah informasi tentang  Ciri-Ciri Karakter Diri Di Balik Juz Al Qur'an, semoga bermanfaat bagi sobat semua dan semoga bisa mengambil pelajaran. Terima kasih sudah berkunjung disini, dan ikuti update terbaru tentang belajar Numerik Al-Qur'an.

Grafik Hati Manusia dari 30 Juz di Al-Quran

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh ...
Semoga kita selalu dalam lindungan Alloh SWT, dan mendapat rahmat dan hidayah-Nya. Amiin.
Dalam Postingan kali ini saya berbagi tentang materi Grafik Hati dari 30 Juz dalam Al-Qur'an, Langsung saja kita simak bersama-sama. 

Masalah “hati” sepertinya tak akan kunjung habis pembahasannya. Beberapa sisi pandangpun telah dikemukakan dengan berbagai asumsi dan dalilnya. Hal ini menunjukkan betapa masalah “hati” menduduki prioritas yang teramat penting untuk dipahami, mengingat hal inilah yang merupakan salah satu motorik kehidupan manusia, mau menuju pada kebaikan kah atau sebaliknya.


Di dalam Al Qur'an pun penekanan tentang hati berulang kali ditegaskan, baik dalam konteks kehidupan dunia maupun akhirat. Hal ini semakin meyakinkan kita, memang benarlah adanya bahwa masalah “hati” adalah hal yang vital dalam kiprah dan sepak terjang manusia sebagai KhalifahNya di muka bumi ini.

Khusus dalam konteks memperhatikan Al Quran, ada sebuah ayat yang menegaskan tentang hubungan hati dengan kepahaman manusia akan Al Quran, yakni :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci.“ (Muhammad: 24).

Di ayat lain, Allah pun menegaskan bahwa hati manusia terkait pula dengan perolehan dan pencapaian akan petunjukNya : 

Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” (Qs.2-Al Baqarah 97)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah Membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah Mengunci pendengaran dan hatinya serta Meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (45-Al Jaatsiyah 23)

 Adapun dalam hubungannya dengan azab Allah, ternyata juga dikaitkan dengan hati :

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat. (Qs. 2-Al Baqarah 7)

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah Menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (Qs. 2-Al Baqarah 10)

Pertama : Mari kita berangkat pembahasan ini dari awal penjelasan turunnya Al Quran di bulan Ramadhan (Qs. 2-Al Baqarah 185). Mungkin, kisah tentang turunnya Al Quran pada bulan Ramadhan sudah diketahui secara meluas, baik bagi ummat Islam maupun tidak. Artinya, secara kaidah sejarah, hal ini sudah menjadi pengetahuan umum yang secara sederhana dapat dihafal dan diingat. Namun, apakah kiranya Allah yang sudah “memilih” bulan Ramadhan (diantara 11 bulan lainnya) sebagai bulan yang tepat untuk diturunkannya (awal) Al Quran, tidak memiliki maksud dan pesan “khusus” tersendiri ? Untuk pemahaman yang lebih mendalam, ada perlunya kita perhatikan ada apa di balik terpilihnya bulan Ramadhan sebagai waktu yang tepat. Dalam kedudukan nomor urutnya, bulan Ramadhan, adalah bulan ke 9. Sedangkan, surat ke 9 di Al Quran adalah surat At Taubah (Taubat / Pembersihan diri). Sudah mulai terlihat di sini, dalam arti waktu kekinian, ternyata Al Quran, insya Allah, akan “diturunkan” kepahamannya, melalui sebuah niatan awal bagi pembacanya yang benar-benar berniat untuk membersihkan diri, bertaubat kepadaNya, sebagaimana Firman Allah :
Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” (Qs.2-Al Baqarah 97).

Selain itu, apabila di deret hitungkan nilai 9 : 1+2+3+4+5+6+7+9 adalah 45. Dan Qs. Ke 45 adalah Al Jaatsiyah, berserah diri/bertekuk lutut. Sebuah kelumrahan bagi seorang insan yang bertaubat, tentunya akan bertekuk lutut, bersimpuh menyerahkan segala urusannya kepada Allah, sebagai wujud taubat atas segala dosa dan kesalahannya selama ini. Terkait dengan nilai 45, ternyata memiliki kesamaan nilai numerik dengan kata Juz : ﺟﺰﺀ , Jim = 5, Zai = 11 dan Hamzah 29, sehingga total seluruhnya, 5 + 11 + 29 = 45. Bukankah pada bulan Ramadhan (selain puasa), dikaitkan pula dengan bertadarus Al Quran ? Dengan asumsi kesetaraan nilai 30 juz di Al Quran dan jumlah hari (bulan Ramadhan), jelas sekali sebuah konektifitas antara konsep Juz dan bulan Ramadhan. Artinya, di dalam ritual bertadarus Al Quran dengan konsep juz, berhubungan erat dengan nilai-nilai pembersihan diri dan taubat.

Kedua : Sebuah niat untuk membersihkan diri dan bertaubat, tentu berangkat dari kesadaran hati yang mendalam. Sehubungan dengan inilah, maka nilai 9, dalam konteks anatomi manusia adalah titik anatomi : Hati / Hati Nurani. (khusus tentang pemetaan titik-titik anatomi manusia akan dijelaskan dalam materi tersendiri, dalam materi parameter Struktur ‘Ain).

Ketiga : Dengan uraian di atas, Insya Allah bertambahlah kepamahan kita, bahwa prosesi pembacaan Al Quran, ternyata berkaitan dengan sebuah kesucian niat untuk membersihkan diri dan bertaubat. Dengan begitu, Insya Allah, Dia akan ridha menurunkan hidayah kepahaman, memperbaiki pola fikir dan hati nurani kita, dalam rangka meraih hidayah pencerahan intelektualitas yang dilandasi dengan spiritual qurani yang kokoh. Demi menjadi insan yang selalu dekat denganNya.

Keempat : Bila diperhatikan Pintu Ka’bah, bentuk grendel pembuka pintunya berbentuk 2 buah gambar hati. Selain itu simbol tersebut juga berbentuk tulisan dua buah angka lima (5 dan 5) dalam tulisan Arab. Bila dikaitkan sebuah simbol pintu dengan gambar hati dan angka 55, akan diperoleh sebuah pesan penting tentang Rahman Allah atas Ilmu Al Quran, yaitu dalam rangka meraih Ar Rahman ((Maha Pengasih)-Surat ke 55 adalah Ar Rahman), perlu di awali dari pintu kesadaran yang bertolak dari kesucian niat di hati. Sehingga misteri ilmu Al Quran (karena Ka’bah adalah merupakan simbol dari Al Quran), Insya Allah, akan diperkenankan turun kepahamannya kepada hamba-hambaNya yang istiqamah membaca dan mempelajari dengan kesucian hatinya.  

GAMBAR PINTU KA'BAH 


Kelima : Dalam konteks nilai 9 (hati nurani) dan 45 (nilai numerik juz), di bawah ini akan disampaikan lebih jauh tentang penjabaran nomor-nomor surat dan ayat yang terkandung pada masing-masing juz (30 juz), dimana dengan nilai-nilai yang terkandung dari nomor surat dan ayatnya, dapat menjadi rujukan dalam pembentukan 30 macam bentuk Grafik Hati.

Namun sebelumnya, perlu dibahas terlebih dahulu ayat yang mendukung terbentuknya sistem grafik ini yaitu :

Ayat Pertama :

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki­-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,: “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, surga yang mengalir di bawahnya sungai­sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak” (Qs. 57-Al Hadiid 12).

Penjelasan :

Kata laki¬laki sebagaimana bunyi ayat di atas bila dilihat dari kacamata biologi, dapat disimbolkan dengan notasi ”x”, dan perempuan disimbolkan dengan notasi ”y”. Selanjutnya bila kedua notasi tersebut dikonversikan ke dalam grafik matematika maka notasi x (laki¬laki) adalah sebagai sumbu x dan notasi y (perempuan) sebagai sumbu Y. Sedangkan kata “cahaya mereka bersinar” dapat dimaknai sebagai titik koordinat dari kedua sumbu tersebut.

Adapun untuk mendapatkan nilai dari dua sumbu (X dan Y) tersebut akan diperoleh dari unsur-unsur numerik yang terdapat di Al Qur’an, seperti nomor surat, nomor ayat, nomor ‘ain, dll.

Unsur¬unsur tersebut bila dikelompokkan, atas dasar kategori tertentu yaitu Juz, Surat, ‘Ain atau pengelompokan data numerik Al Qur’an lainnya, maka pada akhirnya akan membentuk visualisasi grafik yang memperjelas arti dan maksud serta tujuan dari data / pengelompokan tersebut.
Ayat Kedua :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Qs. 41-Hamin As Sajdah 53).
Penjelasan :

Ayat pada QS 41;53 menjelaskan bahwa keberadaan ayat¬ayat Allah mencakup tiga hal yaitu : Alam (ufuk), Diri sendiri (manusia) dan Al Qur’an

Dalam metode pembetukan grafik, pada akhirnya akan membentuk sebuah visualisasi ayat-ayat alam (kauniyah). Dengan begitu, insya Allah dengan visualisasi tersebut, akan lebih memudahkan kita dalam memahami pesan-pesan tersembunyi di Al Qur’an. Artinya, dengan memperhatikan nilai-nilai numerik pada ayat¬ayat kauliah (Al Qur’an) kemudian dikoneksikan dengan ayat¬ayat Allah di alam dan di diri manusia (ayat kauniah), melalui visualisi grafiknya, akan semakin membuktikan tentang hubungan yang erat dan interaktif antara Alam, Manusia dan Al Quran dan semakin jelaslah bahwa Al Qur’an itu adalah benar.

Ada sebuah rumus bantuan untuk dijadikan sebuah rujukan, yaitu dari ayat : Qs. 93-Adhuha 4, “dan sungguh, yang kemudian (akhir) itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan”. Dari ayat ini, bila dihubungkan dengan metode ilmiah matematika, ternyata berhubungan dengan sebuah metode pengurutan, dari urutan akhir ke urutan awal (Descending) dan sebaliknya urutan awal ke urutan akhir Ascending. Dengan acuan rumus inilah, kemudian kelompok data numerik pada setiap juz diurutkan dengan dua metode (Ascending dan Descending) atau sebuah sistem pencerminan. Setelah itu, dengan bantuan software Ms-Excel, nilai-nilai numerik yang diperoleh, dikonversikan kedalam bentuk grafik Radar, yang pada akhirnya akan menjadi sebuah bentukan Gambar Hati.


Keenam : Perlu kiranya dalam hal ini, ditambahkan pula beberapa hadist yang berhubungan dengan betapa pentingnya masalah “hati” :

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik, dan apabila rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ia adalah hati/qolbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sungguh, hati anak Adam itu sangat (mudah) berbolak-balik dari-pada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih.” (HR. Ahmad).

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Allah hanya melihat kepada Qolbu/hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

“Wahai hamba-hamba-KU, seandainya seluruh makhluk diantara kalian dari awal sampai akhir, memiliki sebaik – baik qolbu/hati manusia (qolbu/hatinya Nabi SAW), maka hal itu tidak menambah kekuasaan-KU sedikitpun. Wahai hamba-hamba-KU, seandainya seluruh makhluk diantara kalian dari awal sampai akhir, memiliki seburuk – buruk qolbu/hati (qolbu/hatinya Iblis), maka hal itu tidak mengurangi kekuasaan-KU sedikitpun.” Hadits qudsi, dari Abu Dzar Al Ghifari RA :

“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba, sebelum istiqomah qolbu/hatinya.” (HR. Ahmad)

“Tidaklah dinamakan qolbu/hati karena ia (selalu) ‘Taqollub’ (berbolak – balik/ berubah – ubah). Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad)

“Fitnah tersodorkan ke dalam qolbu seperti ternodanya tikar sehelai demi sehelai. Qolbu mana saja yang menyerap fitnah itu, maka qolbu itu akan ternoda dengan noda hitam, tapi Qolbu mana saja yang mengingkari fitnah itu, maka qolbu itu akan tetap dalam keadaan putih sampai qolbu itu akan kembali ke 2 macam hati.”

Ali radhiallahu ‘anhu berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,

 “Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (Hilyah al-Auliya 1/70-80).

Sekian Sekilas informasi tentang  Grafik Hati Manusia dari 30 Juz di Al-Quran, semoga dapat bermanfaat dan diambil pelajarannya. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, dan ikuti terus updatetan terbaru dari kami tentang Format dan Struktur Al-Qur'an.

Metode Psikologi Al-Qur'an

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh ...

http://fsqdaqaseroja.blogspot.com/

Pemetaan 30Juz

Referensi Ayatnya : 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (41-Hamim As Sajdah 53)

– Diri mereka sendiri (Manusia) : Sistem Juz

– Di segenap ufuk (alam semesta) : Sistem Surat

–  Al Qur’an itu adalah benar (Sistem / Kaedah hukum) : Sistem Ayat


Numerik Abjad Al-Qur'an


Penjelasannya yaitu : 

– Setiap awal juz selalu dituliskan lafadz Al Juz

– Nilai Numerik Al Juz = 76 (Qs. Al Insan) = Manusia

– Al Juz berkaitan dengan sistem pemetaan manusia



Penjelasannya Yaitu : 

 – Nilai numerik Fardhu : Fa (20), Ra (10), Dha (15) = 45.

– Nilai numerik Sunnah : Sin (12), Nun (25), Ta Marbutah (32) = 69.

– Satu manusia di atas satu Sajdah (Qs. 32 As Sajdah : 30 ayat).

– Satu manusia terkait dengan salah satu juz di antara 30 juz Al Quran sebagai As Sajdah nya (batasan-batasannya).

– Sajdah : tempat sujud :  Juz adalah sarana/metode untuk mensujudkan diri, kenal diri, sadar diri, agar sujud/patuh/tunduk kepada ketentuan Allah swt di dalam Al Quran.



Penjelasannya Yaitu : 

– Nilai Fardhu + Sunnah = 45 + 69 = 114 (Qs. An Naas/Manusia).

– Manusia di atas As Sajdah = Manusia dan Juz.

– Nilai nomor surat As Sajdah (32) + jumlah ayatnya (30) berjumlah : 62.

– 62 + 114 = 176 (jumlah ayat dari surat ke 4 An Nisaa’ / Simbol Wanita).

– Nilai numerik Fardhu (45), 4 + 5= 9 dan nilai numerik Sunah (69), 6 + 9= 15.

– 62 + 114 + 9 + 15 = 200 (jumlah ayat dari surat ke 3 Ali ‘Imraan / Simbol Lelaki).

– Baik wanita maupun lelaki, setiap manusia terkait dengan salah satu juz di Al Quran.


Penjelasannya Yaitu : 

Bertadarus Al Quran, mengandung pesan untuk mencari jati diri manusia, dalam rangka untuk mengenali dirinya dan mengenali Allah swt.




Penjelasannya Yaitu : 

Membaca juz adalah dalam rangka berserah diri dan membersihkan diri (At Taubah/Taubat) 



Penjelasannya Yaitu :  Pembacan juz, merupakan kelengkapan dari 5 Shalat Fardhu



Penjelasannya Yaitu :  

– Nilai 50 sebagai kelengkapan shalat, terkait dengan surat ke 50-Qaaf 45 ayat.

– Qaf adalah abjad hijaiyah ke 21, dan nilai 45 setara dengan nilai numerik lafadz juz.

– Sehingga dikorelasikan dengan Juz 21.

– Awal juz 21 adalah Qs. 29 Al ‘Ankabut ayat 45 dan di akhiri di ayat 69, Sehingga 45 + 69 = 114.

(lihat perhitungan Fardhu dan Sunah di atas yang memiliki nilai yang sama)

– Membaca juz dan shalat, dalam rangka untuk implementasi secara individu (kenal diri, sadar diri) dan sosial, sehingga mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar.




Penjelasannya Yaitu : 

– Judul surat tentang manusia : Qs. 76 dan Qs. 114.

-Jumlah ayatnya : 31 + 6 = 37. Nilai 37 adalah sama dengan jumlah ayat dari Qs. 45-Al Jatsiyah atau sama dengan dengan nilai numerik juz.

– Juz berkaitan langsung dengan manusia baik tunggal maupun jamak.



Penjelasannya Yaitu :  Keterkaitan antara manusia, ruh dan juz.



Penjelasannya Yaitu :  30 juz adalah sistem pemetaan 30 tipologi manusia, untuk dikenali dalam rangka membenahi diri (meminimalisir potensi negatif) dan mengoptimalkan potensi posisitf.


Penjelasannya Yaitu: 

– Nilai numerik Asy Syifa (Obat / Penawar) = 288.

– Nilai 288 sama dengan nilai baris di setiap juz : 18 baris x 16 halaman = 288 baris.

– Juz adalah sebagai Asy Syifa (obat/penawar) penyakit medis dan non medis, fisik dan non fisik.




Penjelasannya Yaitu : Membaca juz adalah sebagai wujud konkrit untuk memperbaiki diri, baik jiwa maupun raga, dalam rangka regenerasi ummat dan pembuktian kebenaran/kemukjizatan Al Quran




Penjelasannya Yaitu :  Pembacaan juz terkait dengan upaya untuk menata hati, mengobati penyakit hati.

Untuk Lebih Jelasnya Lihat materi tentang Grafik Hati dari 30 Juz di Al Quran.






RENUNGAN AYAT 
Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya.” Tidak, Al Quran itu kebenaran (yang datang) dari Tuhan-mu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau; agar mereka mendapat petunjuk. (Qs. 32 As Sajdah ayat 3)



Popular Posts