Tipe Karakter Juz 4 Al-Qur'an (Realistis dan Perayu)

Masih melanjutkan karakter diri manusia dari Al-Qur'an yang sebelumnya anda sudah membaca karakter juz 3 dan pada kesempatan ini kami berikan lanjutannya yaitu Tipe Karakter Juz 4 didalam Al-Qur'an. Mari kita simak bersama-sama dibawah ini.

Tipe Karakter Juz 4 Al-Qur'an


1. PROFIL

Juz ini terdiri atas dua surat yang sama-sama tidak utuh, yaitu surat ke-3 (Ali-Imran) 109 ayat, dan surat ke-4 (an-Nisaa) 23 ayat. Berikut daftar nama surat dan jumlah ayat pada juz 4 yaitu surah ke 3 Ali-Imran  (109)  92–200 dan surah ke 4 An-Nisaa (23) 1 – 23 jumlah ayat ( 132 ). Dari 30 Juz yang ada dalam al-Quran, hanya juz 4 dan juz 6 yang merupakan juz di mana tanda ’ainnya paling sedikit, yaitu ada 14.


2. KARAKTER JUZ 4

Juz 4 sandi tentang pasangan lelaki perempuan yang menyatu dalam suatu ikatan perkawinan, atau juga lambang dari sebuah keluarga atau suami-istri. Lambang dari sebuah komitmen dua insan yang ingin hidup bersama dalam suatu ikatan pernikahan. Perempuan dan laki-laki, dalam ajaran agama memiliki hak melakukan ritual secara berbeda. Pada juz ini, surat an-Nisaa hanya terdiri atas 23 ayat. Ini suatu sandi bahwa sebagai seorang pribadi, wanita hanya dapat atau berhak melakukan kegiatan ritual selama 23 hari dalam satu bulan (Qomariyah). Sedangkan sisanya, 7 hari untuk melakukan bersih diri. Jadi, dibuat rata-rata seorang wanita akan mengalami menstruasi selama 7 hari dalam sebulan. Dan selama itu pula ia dapat bebas dari kegiatan ritual.

Oleh karena juz 4 merupakan sandi tentang keluarga atau pasangan suami-istri, maka juz tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana ritual bagi seseorang yang mengalami keretakan dalam hubungan pernikahannya. Untuk mengikat kembali tali pernikahan, atau lebih tepatnya komitmen semula, yang telah mengalami keretakan, sese orang dapat membaca juz 4 secara rutin. Dalam batas tertentu, hubungan suami-istri yang ”tidak harmonis” yang disebabkan perbedaan persepsi, dapat diantisipasi dengan cara membaca juz 4, baik suami maupun istri. Artinya, jika keduanya memang sama-sama menginginkan adanya pemulihan kembali suasana keharmonisan rumah tangganya.

Surat Ali-Imran berisi 200 ayat, 91 ayat ikut juz 3, dan 109 ayat ikut juz 4. Pembagian ini nampaknya tidak seimbang. Tetapi apabila dimampatkan, angka-angka tersebut akan sama nilainya. Angka 109 = 10 = 1, dan angka 91 = 10 = 1. Angka 1 sama dengan (Alif) yang berarti pribadi atau otak. Ini berarti bahwa bahwa setiap unsur surat (dalam hal ini surat an-Nisaa) dalam suatu juz mengandung unsur kepribadian atau karakteristik tertentu. Dengan kata lain, juz ini sebuah gambaran mengenai pribadi seseorang.

Juz 4 juga lambang tentang peran ganda seorang wanita. Seorang juz 4, apabila ia wanita, dapat menjadi seorang ibu yang baik dalam memelihara anak-anaknya. Dalam dirinya telah terpateri suatu kodrat sebagai pendampig setia seorang laki-laki (suami). Dua surat yang berlawanan menjadi satu dalam dirinya. Ia seorang lelaki (Ali-Imran) dan sekaligus seorang wanita (an-Nisaa). Jika ia seorang lelaki, juga dapat berperan sebagai ibu terhadap anak-anaknya. Apa makna juz 4 dalam sebuah rumah tangga? Seorang ibu rumah tangga, ketika suami pergi berburu atau mencari nafkah di tempat yang jauh, ia dapat berperan sebagai seorang ayah terhadap anak-anaknya. Seorang juz 4 wanita, atau yang telah menjadi ibu dari anak-anak, ketika ia ditinggal ”mati” oleh suaminya, pada umumnya sangat ”sulit” untuk kawin lagi. Ia cenderung kemudian ber-peran sebagai ibu dan ayah sekaligus. Demikian juga sebaliknya, jika seorang juz 4 laki-laki.

Seorang juz 4 pada umumnya memiliki kelebihan atau kekuatan fisik yang begitu tinggi. Ia akan tetap sehat justru apabila tetap bergerak atau bekerja. Sebaliknya, jika menganggur, ia bisa jadi akan mengalami ”sakit-sakitan”. Dia tipe seorang pekerja tulen.

Cetak-tebal pada juz 4 ( Lantanaaluu). Ini berarti bahwa, pada suatu saat, seorang juz 4 menampakkan sikapnya yang begitu ”manja”, atau ketergantungan terhadap orang lain. Tetapi di saat yang lain, ia begitu tampak tegar dan mandiri. Di sinilah letak kontradiktifnya. Ketika sifatnya yang tegar muncul, maka egoismenya juga muncul. Ia begitu keras kepala. Tetapi begitu sikap kemandiriannya muncul, ia sangat lemah dan sangat tergantung pada orang lain. Namun demikian, seorang juz 4 dalam dirinya memiliki romantisme yang begitu tinggi. Ia gambaran tentang pertemuan antara dua insan yang berbeda jenis. Ketika kedua jenis manusia bertemu dalam satu kesatuan kasih dan sayang, maka yang akan muncul romantisme. Di samping, bahwa dialah orang yang memiliki kekuatan seksualitas ganda.

Namun demikian, seorang juz 4 sebaiknya tidak dikecewakan oleh hubungan ”kasih-sayang” lawan jenis. Misalnya, jangan sampai seorang juz 4 mengalami ”patah hati”. Sebab jika ini terjadi, lebih memungkinkan ia untuk mengkompensasikan kekecewaannya dalam bentuk ”selibat permanen” (membujang) terus, atau menjadi perawan seumur hidup. Dalam dirinya, ada mekanisme yang membuat ia dapat menjadi seorang laki-laki dan sekaligus perempuan, sehingga dapat membuat menjadi ”dingin” dalam masalah seksual. Karena sifatnya yang ganda, maka berbagai bidang dapat ia tekuni secara baik. Jika ia seorang wanita, akan sangat cocok untuk menjadi seorang wanita karir, yang sangat menekuni bidang kerjanya. Sebaliknya, ia juga mampu untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, dalam mendidik dan memelihara anak, maupun dalam ”melayani” suami. Namun demikian, ia bukanlah seorang wanita sejati. Sebab dalam dirinya terdapat unsur kelelakian (Ali-Imran).


3. KEILMUAN

Bila dipandang dari sisi keilmuannya, jadi juz 4 bisa digunakan untuk mengerti keadaan psikologis seseorang anak usia 4 th.. Pada juz itu ada dua kutub yang berlawanan berhimpun jadi satu. Angka 4 sama juga dengan huruf (Tsa) satu wadah dengan 3 titik. Hal semacam ini bermakna bahwa pada umur masuk 4 th., langkah memikirkan seseorang anak terlalu fokus disuatu wadah. Umpamanya, tempat tinggal dimana dia tinggal, bapak yang penyayang, ibu yang penuh kasih serta diri sendiri.

Bentuk hubungan di antara anggota keluarga akan terpateri di alam bawah sadarnya. Oleh karena itu, hubungan antara ayah (Imran) dan sang ibu (an-Nisaa) yang akrab dan serasi suatu cermin yang sangat dibutuhkan bagi pembentukan kejiwaan si anak pada usia ini. Apabila di dalam rumah, hubungan antara sang ayah dan ibu kurang serasi, apalagi terjadi perceraian, misalnya, maka kesan buruk akan tertanam pada diri si anak, dan tentu saja hal ini akan memiliki efek kejiwaan yang amat buruk pula.


4. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

Jika dilihat dengan sistem 11, maka kelemahan seorang juz 4 terletak pada bagian tulang dan atau paru-paru. Namun, kelemahan yang sering muncul dalam diri seorang juz 4 pada umumnya pada bagian betis kaki sebelah kiri. Juz pemampatan yang mirip dengan juz 4 adalah juz 13 dan juz 22. Oleh karena itu, sistem 11 juz 4 sama dengan juz-juz tersebut.

Kelanjutannya : Tipe Karakter Juz 5 Dalam Al-Qur'an. 

Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

sumber : Darul Qohar

Tipe Karakter Juz 3 (Pandai Berargumen, Bijak Mengambil Keputusan)

Melanjutkan dari artikel yang sebelumnya kami posting yaitu Tipe karakter Juz 2 yang pastinya saudara dan saidariku sudah membacanya. Sekarang kami akan memberikan ulasan yang selanjutnya yaitu Tipe karakter Juz 3. Mari Simak ulasanya dibawah ini. 



1. PROFIL

Juz ini terdiri atas dua surat yang masing-masing surat tidak utuh. Juz ini berisi 34 ayat dari surat al-Baqarah, dan 91 ayat dari surat Ali-Imran. Berikut daftar nama surat dan jumlah ayat pada juz 3 yaitu surat ke 2 Al Baqarah (Sapi Betina) dan surat ke 3 Ali Imron (Keluarga Imron) yang jumlah ayat keseluruhan itu ada 125 ayat. Berbeda dengan juz 2 yang benar-benar murni atau penuh dengan ayat-ayat, juz 3 memiliki kop surat di tengahnya, yaitu kop surat Ali-Imran. Jumlah tanda ’ain pada juz ini ada 17.


2. KARAKTER JUZ 3

Sosok seorang juz 3 dapat dibayangkan sebagai berikut. Dialah orang yang paling ”cerewet” dan mudah sekali angkat bicara. Meskipun, apa yang ia bicarakan jelas-jelas hanya ”omong-kosong”. Huruf pertama pada cetak-tebal ( Ta ), dan angka 3 itu sendiri juga ( Ta ) yang berarti THT. Dia lebih mendahulukan berbicara dari pada berbuat. Bahkan, dia bisa saja tubuhnya sama sekali tidak bergerak, atau sama sekali tidak mengerjakan sesuatu, tetapi hanya cukup berbica ra saja sudah puas. Dengan kata lain, kepuasan (target) bagi dirinya apabila ia dapat ”ngoceh” sebanyak-banyaknya dengan orang lain. Tetapi keunikannya, ia dapat menyimpan rahasia dengan baik. Artinya,  meskipun ia cerewet, tetapi ia dapat memegang amanah dengan baik. Ia dapat dipercaya, misalnya untuk menyimpan rahasia atau informasi. Karena kekuatannya pada THT, maka dialah orang yang paling lemah segi psikomotoriknya, atau dalam segi operasional.

Surat al-Baqarah bagi juz 2 memiliki makna ”kelemahan” segi ”psikologis” atau mentalitas, yaitu perasaan tipis atau mudah tersinggung. Sedangkan surat al-Baqarah bagi juz 3 memiliki makna kelemahan dalam segi fisik, sebagaimana seorang juz 1. Oleh karenanya, surat al-Baqarah kemudian diikuti oleh surat Ali-Imran. Surat ini gambaran seorang laki-laki yang benar-benar jantan, Di samping itu, ia lambang dari sebuah keluarga yang merupakan bibit unggul, atau ”keturunan”.

Hal ini berarti, jika surat al-Baqarah muncul dalam diri seorang juz 3, maka ia benar-benar menjadi orang yang lemah secara fisis, dan hanya bisa berbicara. Tetapi di sisi lain juga terdapat sifat kontradiktifnya. Apabila surat ali-Imran muncul, maka ia tipe orang yang giat bekerja. Memang, jika diamati secara teliti, setiap juz (orang) dalam dirinya memiliki sifat-sifat yang bernada kontradiktif. Dan karena itu, jika diamati dan diinterpretasi secara jujur maka setiap juz juga merupakan gambaran sosok seorang pribadi yang di dalamnya terdapat karakter yang kontradiktif. Di satu pihak terdapat kecenderungan ke arah plus, tetapi di pihak lain terdapat unsur karakteristik yang mengarah pada sebaliknya.

Demikian misalnya, seorang juz 3 ada yang menampilkan sifatnya yang begitu lemah secara fisis dan hanya bisa berbicara melulu, tetapi ada juga seorang juz 3 yang benar-benar tipe pekerja keras, tanpa suka ”ngomong”. Ini berarti, tipe pertama hanya menampilkan surat al-Baqarahnya, sedangkan tipe kedua hanya menampilkan surat Ali-Imrannya. Surat Ali-Imran bagi juz 3 dapat juga berarti bahwa ia memiliki kelebihan dalam segi fisis. Ialah gambaran seorang bapak yang benar-benar kuat dan berpenampilan ”jantan” dan kuat. Karena itu, surat dapat dipakai sebagai upaya spiritual untuk mengantisipasi gejala ”pengapuran” pada tubuh (tulang) manusia, terutama pada usia di atas 30 tahun. Apabila dibaca dengan suatu ”sistem tertentu”, surat ini dapat dipakai untuk menyembuhkan sakit pada bagian tulang belakang.

Surat Ali-Imran merupakan lambang ”keluarga” yang menurunkan anak-anak sehat dan cerdas. Ali-Imran ayah Maryam, seorang yang kemudian melahirkan seorang Isa. Setiap orang dapat menderivasi ”keilmuan” Imran dalam dirinya, yaitu ilmu mengenai ”genetika”, dan bagaimana menurunkan anak-anak yang cerdas dan sehat, Karena itu, sejak bayi dalam kandungan usia 4 bulan 2 hari, sebaiknya harus sudah ”dipantau” juznya, dan kemudian mulai dibacakan juznya secara rutin. Apabila ini dilakukan, maka ia dapat mengadopsi keilmuan Imran, yaitu mendidik anak sejak dari dalam kandungan.

Mendidik anak sejak dari masa kandungan tidak hanya dengan cara kedua orang tuanya berperilaku ”moril”, tetapi juga rajin membacakan juznya secara rutin.


3. KEILMUAN

Jika juz 3 ini dipakai untuk menganalisis kondisi psikologis perkembangan anak, maka kita dapat melihat perkembangan anak pada usia 3 tahun. Pada usia anak mencapai 3 tahun, dalam dirinya sedang terjadi proses pembentukan kadar darah yang sesuai dengan organ badannya. Pada usia inilah awal dari pembentukan postur tubuh seorang anak. Sebagai awal pembentukan postur tubuh, maka seorang anak pada usia ini sangat memerlukan darah murni berkadar tinggi yang dibentuk oleh makanan yang bergizi.

Menurut ilmu kedokteran maupun ilmu agama, seorang anak pada usia 3 tahun tidak boleh lagi menyusu kepada ibunya karena dikhawatirkan proses proses pembentukan kadar darah menjadi tidak sempurna. Di sinilah terlihat suatu pesan, kenapa al-Baqarah digandeng dengan Ali-Imran yang laki-laki, dan tidak kepada an-Nisaa yang perempuan. Kita semua tahu bahwa tidak ada laki-laki yang dapat menyusui anak. Karena pada usia 3 tahun seorang anak tidak lagi menyusu kepada ibunya, maka yang bertanggungjawab untuk menyediakan susu bagi si anak Ali-Imran selaku ayahnya.

Pada usia ini seorang anak sering memperlihatkan rasa kerinduan terhadap belaian dan kasih sayang seorang ayah. Dia ingin selalu ikut kemanapun ayahnya pergi, bahkan jika tidurpun anak pada usia ini ingin dalam pelukan sang ayah.


4. KELAMAHAN DAN KELEBIHAN

Kelemahan dan atau kelebihan seorang juz 3 terletak pada bagian THT dan atau darah. Kelemahan lain, dapat terjadi pada bagian punggung (pundak sebelah kiri). Siapapun, yang terlalu banyak berbicara, maka akan merasakan sakit-sakit pada bagian punggung sebelah kiri. Sistem 11 juz 3 dapat dilihat pada juz 12, 21 dan 30, sebab juzjuz tersebut juga merupakan juz pemampatan dari juz 3. Dalam masyarakat kita orang yang berjuz 3 juga relatif ”langka”. Dan bukan berarti tidak ada.

Kelanjutannya : Tipe Karakter Juz 4 Dalam Al-Qur'an

Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

sumber : Darul Qohar


Metode FSQ Dalam Perspektif 'Ulumul Qur'an

Fsq Daqa Seroja - Hasil dari riset beberapa literatur Ulumul Qur'an, ternyata ada keterkaitan antara FSQ dengan salah satu cabang Ulumul Qur'an. Ada dua sudut pandang antara FSQ analisis kajian format dan struktur Al-Qur'an dalam persepektif 'Ulumul Qur'an.

Metode FSQ Dalam Perspektif 'Ulumul Qur'an

PERTAMA : Sebagai bagian dari salah satu cabang ilmu Al-Qur'an 'Ilmu I'jaazil Qur'an
KEDUA : Sebagai bagian dari salah satu cabang ilmu Al-Qur'an 'Ilmu Munasabatil Qur'an

A. 'Ilmu I'Jaazil Qur'an

Al-Qur'an terbangun atas 8 unsur, salah satunya adalah "Al Mu'jiz", yang artinya mengandung mukjizat. Menurut As Suyuti, para ulama yang menekuni dan mengarang kitab tentang ilmu I'Jaazil Qur'an (Ilmu tentag sisi sisi kemukjizatan A-Qur'an) Diantaranya : Al Khuthaby, Fachrudin Ar Razy, Abu Bakar Al Baqilany, Ibnul Araby dan lainnya. Ulama ulama klasik inilah yang mengilhami pencetus metode FSQ untuk mempelajari Al-Qur'an sebagai I'Jaazil Qur'an dari sudut pandang format dan struktur.

Tentu mengacu pada Al-Qur'an standar kajian, yaitu Al-Qur'an format 18 baris. Salah satu hikmah yang bisa digali dari kajian ini, yaitu tentang manusia naik secara fisik dan non fisik, pejalanan hidup secara psikologis, menjelaskan tentang sholat, alam semesta beserta isinya dan masih banyak hikmah yang lainnya, juga variabel-variabel yang menyusun Al-Qur'an antara lain, Manzil, Juz, Surat, Ayat, dan sebagainya. 

B. Ilmu Munasabatil Qur'an

  1. Tauqify, yaitu variabel yang bentuk dan urutanya berdasarkan ketentuan atau instruksinya dari Nabi Muhammad SAW dari Jibril as secara langsung. Antara lain Ayat (kumpulan kata yang mempunyai awal dan akhir, termasuk bagian dari surat tertentu) sebanyak 6236 ayat dan Surat (kumpulan ayat yang mempunyai judul tertentu) sebanyak 114 surat.
  2. Ijtihad, yaitu variabel yang bentuk dan urutanya berdasarkan hasil ijtihad sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut baik atas instruksi Nabi SAW atau tidak. Misalnya Manzil (pembagian AlQur'an menjadi 7 bagian), Juz (pembagian Al-Qur'an menjadi 30 bagian), Halaman, Ain (Ruku' - marka) dan lain-lain.
Tentunya variabel satu dengan yang lainnya baik yang bersifat Tauqify mauoun Ijtihady saling berkaitan atau berhubungan untuk membentuk sebuah konstruksi Al-Qur'an. Hubungan antar variabel Al-Qur'an inilah yang menjadi obyek dari pembahasan ilmu Munasabatil Qur'an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang hubungan atau korelasi antar variabel Al-Qur'an

- Tafsir Ilmiah Al-Qur'an

Al-Qur'an Al Karim, sebuah kitab yang sempurna, baik dari segi penempatan ayatnya yang sistematis, peletakan urutan surah sampai berapa banyak ayat untuk masing-masing surah. Oleh karenanya Al-Qur'an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dasn sifat. Keontetikan A;-Qur'an dijamin oleh Alloh, dan ia adalah kitab yang selalu terpelihara.

-Tafsir Isyari, Struktur dan Format

Tergerak oleh perintah Allah melalui Al-Qur'an agar manusia memikirkan dan mempelajarinya, dan tidak sekedar mengikuti nenek moyang, maka pencetus metode Format dan Struktur Al-Qur'an (FSQ) berupaya menafsirkan Al-Qur'an melalui format dan strukturnya. Pengamatan ini mengarah kepada variabel Al-Qur'an, dimana setiap variabel memiliki makna dan saling terkait satu sama lain.

Seperti kita ketahui bahwa Al-Qur'an yang dibukukan seperti sekarang ini, buka berdasarkan urutan atau kronologi turunnya wahyu, melainkan melalui perhitungan dan penempatan ayat dan surat berdasarkan bimbingan dari Allah SWT kepada Rasululloh SAW. Dimana turunnya sura dan ayat bersifat acak. Bukti bahwa Al-Qur'an disusun secara sistematis dan bukan kronologi dapat dilihat pada beberapa fakta, antara lain :
  • Ayat-ayat yang pertama kali turun tidak ditempatkan sebagai ayat yang mengawali penulisan Al-Qur'an, namun justru ditempatkan sebagai ayat 1 sampai 5 dari surat 96 Al-Alaq (secara keseluruhan berjumlah 19 ayat).
  • Tujuh ayat yang menjadi isi surah Al Fatihah ditempatkan sebagai pembuktian Al-Qur'an, padahal 7 ayat ini bukan ayat pertama kali diwahyukan.
Demikian ulasan kami mengenai Metode FSQ Dalam Perspektif 'Ulumul Qur'an, semoga bisa menjadikan kita mencintai dan mengamalkan apa saja yang sudah didalam Al-Qur'an. Terima kasih sudah berkunjung.

Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak

Fsq Daqa Seroja - Pada kesempatan kali ini saya membagikan ulasan artikel mengenai Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak, Pernahkan anda ingat saat anda kecil, kita mengaji Al-Qur'an dimulai dari Juz Amma'? Yaitu membaca surat terbesar hingga  ke nomor surat 78, (mulai dari surat ke 114 An Nass, 113 Al Falaq, 112 Al Ikhlas, hingga sampai surat ke 78 An Nabaa) tetapi tidak lupa selalu dimulai dengan surat ke 1 yaitu Al-Fatihah, mengapa membacanya tidak mulai nomor surat terkecil hingga ke nomor surat terbesar, mengapa demikian? Yuk simak penjelasan dibawah :

Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak


Kita lihat jumlah surat ke 1 yakni Al-Fatihah : Jumlah 7 Ayat
Kita lihat jumlah Juz Amma' yaitu : berjumlah 564 Ayat
Jadi kita jumlahkan jumlah ayat tersebut adalah 571 Ayat

Subhanallah, kita temukan angka 571 dalam penjumlahan ayat diatas, Dari postingan saya sebelumnya yang menyebutkan tentang angka tersebut. Nilai 571 itu menunjukan surat Ar-Rahman (Allah SWT), tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan Al-Qur'an. 

Hal ini menyiratkan bahwa mengaji pada waktu kecil adalah untuk pertama kali yaitu mengenal Ar Rahman (Maha Penyayang) yaitu Allah SWT, kemudian memperkenalkan figur Rasululloh Muhammad SAW sebagai suri tauladan, kemudian mengajarkan kecintaan kepada Al-Qur'an untuk senantiasa membaca, belajar mengaji, mengkaji, dan memahami, kemudian mengamalkan. Kita bisa melihat firman Allah dibawah ini.

"Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka". (QS. 3 : 191)

".... dan kami turunkan kepadamu Al kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS.16 : 89)

"Untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir". (QS.40 : 54)


Demikian pembahasan dari kami tentang Tradisi Membaca Juz Amma' Pada Anak-Anak, semoga dapat diambil positif dan hikmahnya, jangan lupa baca artikel kami yang lainnya. Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

Pesan Yang Tersirat Di Dalam Al-Qur'an

Assalamu'alaikum Warahmatullohi wabarakatuh ...

Seperti kita ketahui bersama bahwa komposisi utama Al-Qur'an adalah 30 Juz, 114 Surat , dan 6236 Ayat. Banyak sekali periatiwa diturunkannua Al-Qur'an baik berupa ayat, tempat, dan waktu diturunkannya ternyata menjelaskan tentang isi Al-Qur'an itu sendiri. Seperti peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hiro yang diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, dan terjadinya Malam Lailatul Qodar.

Pesan Yang Tersirat Di Dalam Al-Qur'an

Goa Hiro adalah tempat dimana diturunkannya Wahyu pertama Al-Qur'an dan surat yang pertama diturunkan yaitu Al-Alaq.

Mari kita simak penjelasan tentang Pesan Yang Tersirat Di Dalam Al-Qur'an dibawah ini:

- Surat Al-Kahfi (GUA) adalah urutan surat ke 18
- Surat Al-Alaq (Segumpal Darah) adalah urutan surat ke 96
Jadi jika kita jumlahkan nominal diatas, akan ketemu hasilnya adalah 114, dari hasil penjumlahan 18 + 96 = 114
Dan Ternyata jumlah 114 adalah Jumlah surat dari keseluruhan Al-Qur'an.

Peristiwa wahyu diturunkannya Al-Qur'an yaitu pada tanggal 17 Ramadhan, hal ini sangat berkaitan erat dengan malam kemulyaan yaitu malam Lailatul Qodar. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembahasan dibawah ini :

- Surat Al-Isro adalah urutan surat ke 17
- Surat Al-Qodr adalah urutan surat ke 97
Jadi jika kita jumlahkan nominal angka diatas, akan ditemukan hasil 114. Dan ternyata jumlah 114 adalah jumlah keseluruhan surat dalam Al-Qur'an.

Mengapa pada surat Al-Alaq itu sendiri hanya 5 ayat saja yang pertama kali diturunkan? ... Padahal total dari surat tersebut adalah 19 ayat. Lalu pertanyaan yang timbul, mengapa tidak diturunkan sekaligus saja?. Adakah memiliki pesan tertentu?

Allah berfirman dalam surat Ke 17, Surat Al-Isro ayat 106 :

"Dan Al-Qur'an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian"

  • Pada 5 Ayat pertama, menegaskan pentingnya "Membaca" dengan Nama Sang Pencipta" agar manusia menyadari karunia "Pengetahuan".
  • Dan 14 Ayat berikutnya, berisi penegasan atas hal-hal yang sangat problematis dalam kehidupan, resiko dari perbuatan dan sikap yang harus dipilih oleh manusia.
Adapun yang berhubungan dengan angka 5 (Lima) antara lain :

1. 5 Waktu Sholat Fardhu
2. 5 Rukun Islam
3. 5 Induk dari Al-Mushaf, 4 diantaranya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah, Kuffah, dan yang 1 Mushaf lagi untuk Khalifah Ustman sendiri.

Simak juga tentang kemukjizatan Qur'an mengenai fakta-fakta Al-Qur'an secara ilmiyah. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga dapat memetik hal yang positif dipembahasan ini. Amiin

Hubungan Peristiwa Israa' dan Mi'raaj Dengan Al-Qur'an

Peristiwa Isra' dan Mi'raaj ini sendiri, maupun ibadah sholat yang diperintahkan oleh Allah, jika dicermati ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan Al-Qur'an, baik yang berhubungan dengan nama surat maupun dengan bilangan tertentu yang berkaitan dengan jumlah ayat, nomor surat atau nomor juz yang terdapat didalam Al-Qur'an

Peristiwa Isra dan Mi'raaj

Kata Israa', mengingatkan kita kepada surat ke-17 yaitu surat Al-Israa yang berarti "Memperjalankan Di Malam Hari". Ayat yang pertama dari sura tersebut berbicara tentang perjalanan Israa dan Mi'raaj yang terjemahannya berbunyi : 

"Maha Suci Alloh yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam hari dari Masjidil Haraam ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengan lagi Maha Mengetahui." (ayat 1)

Sedangkan kata Mi'raaj mempunyai hubungan erat dengan surat ke-70 yaitu surat Al-Ma'aarij, yang berarti "Tempat-tempat naik" atau tempat yang paling tinggi. Peristiw mi'raaj ini bercerita tentang naiknya Nabi Muhammad ke langit bersama dengan malaikat Jibril dalam rangka menerima perintah Allah berupa ibadah shalat yang harus dilaksanakan oleh umat manusia.

Begitu pula ketika kita berbicara tentang peribadatan shalat itu sendiri. Diantara peribadatan shalat yang bersifat fardlu maupun sunnah, ada yang mempunyai hubungan dengan nama-nama surat didalam Al-Qur'an. Seperti, misalnya : Sholat fardlu Ashar. Sholat fardlu ini tidak terlepas hubunganya dengan surat ke 103 yaitu surat Al-Ashr. Sedangkan yang berkaitan dengan sholat sunnah, seperti sholat lail (malam) dimana pada waktu tengah malam, orang biasa melakukan shalat tahajud, istigharah dan sholat sunnah yang lainnya.

Hubungan erat Shalat sunnah :
1. Sholat Lail (Malam), mengingatkan kita dengan surat ke 92 yaitu surat Al-Lail.
2. Sholat Dhuha, berhubungan dengan surat Al-Fajr dan surat Adh-Dhuha.

Dan masih banyak sekali didalam Al-Qur'an, keterangan tentang adanya perintah Allah bagi manusia untuk dirikanlah shalat juga banyak kita dapati didalam Al-Qur'an. seperti An-Nisaa ayat 103. Dan adanya waktu-waktu tertentu untuk melaksanakan perintah sholat fardlu lima waktu dalam sehari semalam diterangkan juga oleh ayat-ayat Al-Qur'an seperti dalam surat Al-Israa ayat 78. 

Lebih jelasnya lagi, keberadaan waktu sholat fardlu yang lainnya, diterangkan juga oleh ayat Al-Qur'an tentang sholat Fardlu Ashar, para ulama sepakat bahwa hal itu mengacu kepada QS. AL-Baqarah ayat 238.

QS. AL-Baqarah ayat 238
Tentang Sholat Fardlu Maghrib, diterangkan oleh QS. Huud ayat 114. Jika anda baca artinya dan menemui kalimat "pada bagian permulaan daripada malam" yang disebutkan pada ayat ini tentunya mengarah kepada shalat fardlu maghrib. Karena waktu sholat maghrib merupakan batas antara sore hari dengan mulai bergulirnya waktu malam.

Tentang Shalat Fardlu Isya, diterangkan pada QS. An-Nuur ayat 58, silahkan anda buka Al-Qur'an dan baca ayat beserta terjemahannya.

Meskipun demikian, dari uraian yang akan kita ikuti melalui sebuah model yanng kami sebut sebagai PUTARAN SHALAT. Pesan yang tersirat dari kelima shalat fardlu didalam sehari semalam itu, InsyaAllah akan terlihat jelas berdasarkan posisi, fungsi ataupun peran masing-masing.

Baca juga tentang :  Cara Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an Part 1 dan 2

Terima kasih sudah berkunjung dan semoga pemaparan di atas menjadi manfaat yang positif. Amiin

Cara Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an Part 2

Dalam hal ini masih membahas tentang Raka'at sholat, yang dimana pembahasan pertama atau postingan kami yang pertama yang berjudul Cara Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an Part 1, kali kami meneruskan Pembuktian 17 Raka'at sholat dengan artikel berjudul Cara Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an Part 2

Mari kita coba hubungkan dengan sistematika jumlah surat dalam Al-Qur'an, yaitu yang berjumlah 114 surat. Sebagai langkah awal atau tahap awal adalah melihat urutan Surat 1 dan surat ke 114, dan jumlah 112 surat itu ditengah-tengahnya (diantara surat 1 dan surat ke 114). Mari kita simak penjelasannya dibawah ini : 

- Surat ke 1, yaitu surat awal dari Al-Qur'an yaitu surat Al-Fatihah dengan jumlah 7 ayat.
- Surat ke 1 , yaitu surat dari akhir dalam Al-Qur'an yaitu surah An-Naas yang berjumlah 6 ayat.
- Nilai 112 surat itu di subsitusikan menjadi nomor surat dalam Al-Qur'an adalah surat Al-Ikhlas yang berjumlah 4 ayat.
- Tercipta Qs. 1 (Al Faatihah) 7 ayat – Qs. 112 (Al Ikhlaash) : 4 ayat – Qs. 114 (An Naas) 6 ayat.

Selanjutnya simak penjabaran dibawah : 

1. Memperhatikan Qs. 112 (Al Ikhlaash) dengan makna redaksi verbalnya, yaitu menjelaskan tentang konsep untuk memurnikan keEsaan Allah swt (ketauhidan).

2. Berarti dari awal Al Quran (Qs. 1) sampai dengan akhirnya (Qs. 114), cukup jelas menggambarkan bahwa Al Quran dengan segala hikmah ilmu yang terkandung di dalamnya, akan menghantarkan manusia yang istiqamah berpegang teguh padanya, kepada satu muara, yaitu memurnikan keEsaan Allah (ketauhidan).

3. Nilai 112 juga merupakan jumlah ayat dari Qs. 21 (Al Anbiyaa’/Para Nabi). Hal ini semakin menegaskan bahwa ternyata benang merah dari ajaran dan risalah para rasul adalah tentang ketauhidan, sebagaimana yang ditegaskan pada 21 Al Anbiyaa’ ayat ke 25 : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”.

4. Perhatikan korelasi dari nilai 21 dan 25, pada ayat di atas. Qs. 21 adalah Anbiyaa’ : Para Nabi, sedangkan nilai 25 nya adalah merupakan jumlah para nabi yang wajib diimani. Artinya pada ayat ini jelas menegaskan bahwa : pengutusan seluruh rasul kemuka bumi ini, tidak lain adalah untuk menyampaikan dan meyakinkan seluruh ummat manusia bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan oleh karena itu maka sembalah Dia.

5. Dengan landasan ketauhidan inilah, maka selanjutnya nilai 4 (jumlah ayat dari Qs. 112) akan dijadikan sebuah parameter sistematika selanjutnya.

6. Konsep tauhid, adalah hanya ditujukan kepada yang Maha Esa/Satu (Allah), sebagaimana redaksi verbal dari Qs. 112 yaitu : “Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.

7. Maka gerak sistematika numeriknya dibuat terbalik, yaitu dari surat ke. 114 (akhir) menuju ke surat ke 1 (awal). Atau menjadi : Qs. 114 – Qs. 112 – Qs. 1.

8. 114 berjumlah 6 ayat dan Qs. 1 berjumlah 7 ayat. Dengan parameter 4 ayat dari Qs. 112 yang menjadi rumus pemilahan jumlah ayat (Qs. 114 dan Qs. 1), maka selanjutnya : 6 ayat dari Qs. 114 menjadi : 4 + 2, dan jumlah 7 ayat dari Qs. 1 , menjadi : 4 + 3.

Sehingga terbentuklah sistematika urutan baru yaitu : 4 + 2, 4, dan 4 + 3.
Bukankah ke 5 variabel tersebut ternyata merupakan urutan jumlah rakaat dalam 5 waktu ?.YAITU : 
4 (Isya’) – 2 (Shubuh) – 4 (Dzuhur) – 4 (‘Ashar) dan 3 (Maghrib)

Penjelasan Lengkap, Lihat Skema Dibawah ini :

Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an Part 2


  • Mari kita eksplor lebih jauh lagi hasil di atas. Khususnya pada titik Dzuhur. Coba perhatikan Qs. 112 = 4 ayat. Nilai 112 bila masing-masing variabelnya dijumlahkan : 1 + 1 + 2 = 4. Dan jumlah ayatnya pun 4 ayat.
    Lalu perhatikan lafadz kata Dzuhur dalam bahasa Arab yaitu : ﻈﻬﺮ
  • Huruf Arab tersebut terdiri dari huruf : Dza (ﻅ)= abjad ke 17, Ha (ﻫ) = abjad ke 27 dan Ra (ﺮ) abjad ke 10, sehingga bila dijumlahkan seluruhnya menjadi : 17 + 27 + 10 = 54, Seperti skema di bawah ini :

    Huruf Arab Dhuhur
  • Sebelumnya sudah didapatkan nilai 4 (dari penjumlahan 3 variabel nomor surat 112, yaitu 1+1+2 = 4), lalu nilai 4 (dari jumlah ayat Qs. 112)
  • Mari kita jumlahkan ke - 3 hasil diatas : 4 + 4 + 54 = 62 . Apakah surat ke 62 didalam Al-Qur'an?, surat tersebut adalah surat Al Jum'ah (dengan jumlah ayatnya 11.
  • Tentunya hasil tersebut sudah bisa dikorelasikan bukan, mengapa waktu sholat jum'ah jatuhnya pada waktu sholat Dhuhur? .
  • 62 (Al-Jum'ah) jumlah 11 ayat, Kembali jumlahkan nilai pada jumlah ayatnya, yaitu 1 + 1 = 2.
Bukankah sholat Jum'ah yang waktunya jatuh pada waktu sholat Dhuhur mempunyai jumlah 2 Raka'at?. Subhanalloh... sedemikian sempurna sistematika numerik dalam Al-Qur'an. Untuk kesekian kalinya matematika ilahiah menunjukan kesempurnaanya, Lantas apalagi yang diragukan atas nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an.

“Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya.” Tidak, Al- Quran itu kebenaran (yang datang) dari Tuhan-mu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau; agar mereka mendapat petunjuk”. Qs. 32 (As Sajdah) ayat 3.

Terima kasih sudah berkunjung disini. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan kafir yang menganggap Al Quran adalah Rasulullah saw yang mengada-adakannya, atau hasil karya cipta Muhammad saw. Sungguh, Al Quran adalah kebenaran yang datang dari Allah, agar kita mendapat petunjuk. Baik itu kebenaran dari redaksi verbalnya, nilai numeriknya, dan hal-hal hal lain yang tersurat dan tersirat di dalamnya.

Cara Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an Part 1

Ibadah Sholat adalah suatu ritual ibadah wajib (Fardhu) yang dilaksanakan oleh umat Islam dalam waktu sehari semalam, yaitu ada 5 Waktu Sholat. Diantaranya adalah Sholat Subuh, Dhuzur, Ashar, Maghrib dan Sholat Isya. Dan jumlah dalam sholat tersebut berbeda-beda jumlah rokaatnya. Saya jelaskan disini bahwasanaya, Sholat Subuh ada 2 Raka'at, Sholat Dhuzuh ada 4 Raka'at, Sholat Ashar ada 4 Raka'at, Sholat Maghrib ada 3 Raka'at, dan Sholat Isya ada 4 Raka'at. Jadi jumlah sholat wajib umat Islam sehari semalam ada 17 Rakaat.

Dalam artikel ini kami akan berbagi informasi dan Ilmu tentang Cara Membuktikan Raka'at Sholat Melalui Ilmu Numerik Al-Qur'an, yang dimana jumlah dalam sholat wajib sehari semalam adalah 17 Raka'at. Wacana ini tentu sudah banyak disampaikan oleh para ahli agama, dengan kajian verbal Al Qur’an dan Hadist. Namun, mungkin masih sedikit yang mengulasnya dari sisi numerik Al Qur’an. Harus di akui dengan jujur, riwayat hadist shahih tentang bagaimana terlahirnya jumlah masing-masing rakaat tersebut (seandainya ada), ternyata masih sangat minim sosialisasi nya kepada ummat. Bahkan dengan keminiman tersebut, kamipun sampai saat ini, belum berhasil menemukan riwayat shahih yang menjelaskan hal ini secara terperinci. Kecuali, keterangan-keterangan shahih yang menjelaskan tentang waktu-waktu pelaksanaannya saja. Tanpa bermaksud mengabaikan atau mengenyampingkan riwayat shahih yang minim sosialisasinya, dan bukan pula atas dasar keraguan pada keberadaan ritual shalat yang sudah dijalani ummat selama ini, serta sambil berharap dan berusaha mendapatkan referensi shahih tersebut, kami dari pengkaji Al Qur’an melalui pendekatan numerik Al Qur’an, berusaha mencari referensi shahih dan aktualnya dari sang sumber ilmu itu sendiri, Al Qur’an. Sebuah ikhtiar, yang dilandasi oleh keyakinan bahwa memang benarlah adanya Al Quran adalah kitab petunjuk (huda li naas), sumber dari segala sumber ilmu.  

Selanjutnya, bila memperhatikan dari sisi redaksi verbal Al Qur’an, ternyata untuk hal ini pun tidak ada penjelasan sama sekali. Tidak ada satupun redaksi verbal (terjemahan) Al Quran yang menjelaskan hal bilangan rakaat dari masing-masing waktu shalat. Nah, berangkat dari di sinilah keingintahuan kami bermula. Karena harus diyakini bersama, bahwa Al Qur’an adalah sumber dari segala ilmu, pastinya untuk hal yang sangat penting seperti jumlah rakaat shalat, tentu ada keterangannya di sana. Kalau tidak ada disisi redaksi verbalnya, mungkin dari sisi numeriknya.

Mari kita simak pembuktian dari pesan numerik Al-Qur'an dari Jumlah Raka'at sholat yaitu 17 Raka'at, berikut penjelasannya : 

METODE PERTAMA : Pembuktian dari Lafal Sholat.
Secara nilai numeriknya dari lafal arab dari bacaan Sholat, uraiannya adalah sebagai berikut : 

1. Coba diperhatikan diantara 4 nilai diatas, terdapat 2 angka yang nilainya tidak bisa di subsitusikan menjadi JUMLAH AYAT dalam Al-Qur'an, yaitu nilai angka 23 dan angka 32. Karena dari 114 surat, yaitu jumlah surat dalam A-Qur'an tidak ada satu pun yang memiliki jumlah ayat sebanyak 23 dan 32. Jadi nilai tersebut digabungkan seperti ini : 
Nilai angka 23 digabungkan dengan angka 32 menjadi 2332, terdiri dari : 4 Digit 

2. Lalu selanjutnya kedua nilai tersebut ditambahkan, 23 + 32 = 55 ,
Sehingga tercipta huruf 55 yang terdiri dari : 2 Digit

3. Selanjutnya, nilai angka 55 tadi dikorelasikan kedalam surat dalam Al-Qur'an, yaitu surat ke 55 adalah surat Ar-Rohman yang berjumlah 78 ayat.
Bila kedua nilai tersebut digabungkan sistem digitnya, menjadi 5578, terdiri dari : 4 Digit

4. Nah didalam Al-Qur'an terdapat surat lagi yang berjumlah 78 ayat, yaitu surat ke 22 (Al Hajj)
Sehingga sistem digitnya menjadi 2278, terdiri dari : 4 Digit

5. Selanjutnya lihat metode berikut ini : 
Terdapat hasil dengan nilai 233 , sistem digitnya terdiri dari : 3 Digit
Sekarang lihat hasil dari uraian metode tersebut yang sudah diulas, lihat pembentukan digit yang ditandai tebal dan yang digaris bawahi tersebut dari masing penjabaran ditas, memperoleh digit sebagai berikut : 4 - 2 - 4 - 4 - 3.
Kalau kita jabarkan bersama-sama nilai digit tersebut adalah, Digit 4 (Jumlah Rokaat Sholat Isya), Digit 2 (Jumlah Rakat Sholat Subuh), Digit 4 (Jumlah Rakaat Sholat Dhuzur), Digit 4 (Jumlah Rakaat Sholat Ashar), dan Digit 3 (Jumlah Rakaat Sholat Maghrib).

Dari hasil perhitungan diatas, akhirnya (pada perhitungan titik Maghrib/3 digit) terdapat nilai 233. Bila ditambahkan dengan nilai 5 (yaitu jumlah waktu shalat fardhu) maka menghasilkan nilai : 233 + 5 = 238

Satu-satunya surat yang bisa mencapai ayat ke 238 adalah Surat ke-2 (Al Baqarah), yang terjemahan dari ayatnya adalah : “Peliharalah semua shalat dan shalat Wusthā. Dan laksanakanlah (karena Allah dengan khusyuk”  (QS. 2 , 233)

METODE KEDUA :

Uraian pada metode pertama diatas yang ditinjau dari 2 nilai, yaitu (23 dan 32) yang tidak bisa disubstitusikan sebagai jumlah ayat. Bagaimana dengan nilai 14 (ﺹ) dan 26 (ﻭ) nya?
Nah Nilai yang ini bisa disubstitusikan menjadi jumlah ayat dari 2 buah surat, yakni Surah ke-61 (Ash Shaf) : 14 ayat dan Surah ke-88 (Al Ghaasyiah) : 26 ayat.

Selanjutnya kita mulai dengan perhitungan yang sedikit berbeda dengan perhitungan dari metode pertama, berikut ulasannya :

1. Nilai 14 dan nilai 26 kita gabungkan
Nilai tersebut menjadi 1426, terdiri dari : 4 digit

2. Nilai 14 dan nilai 26 kita jumlahkan
Jadi nilai 14 + 26 = 40 , jadi sistem digitnya terdiri dari : 2 digit

3. Di dalam Al Qur’an ada 2 surat yang berjumlah 40 ayat yaitu Surat ke (75 dan 78) :
Surat ke 75 (Al Qiyamah) : 40 ayat
Dan digabungkan menjadi 7540, jadi sistem digitnya terdiri dari : 4 digit

4.  Surat ke 78 (Al Naba) : 40 ayat
Digabungkan menjadi 7840 : 4 digit

5. Selanjutnya ke 2 Nilai 75 dan 78 tersebut, di hitung dengan metode :
Sekarang lihat hasil perhitungan diatas, terdapat hasil 233. Jadi sistem digitnya terdiri dari : 3 digit

Ternyata dengan metode perhitungan yang sedikit berbeda dengan metode pertama yaitu menghasilkan hasil yang sama. 4 (Sholat Isya) - 2 (Sholat Subuh) - 4 (Sholat Dhuzur) - 4 (Sholat Ashar) - dan 3 (Sholat Maghrib).

Subhanallah, pastinya ini bukan sebuah kebetulan, hanya matematika illahiah lah yang memiliki kesempurnaan sistematika seperti ini. Selanjutnya untuk mencapai keseluruhan ayat surat ke 2, Al Baqarah (286 ayat), maka dari ayat 238 menuju ayat ke 286, butuh 48 ayat lagi atau (238 + 48=286). Bila disubsitusikan lebih lanjut, surat ke 48 adalah Al Fath (Kemenangan). Bukankah hal ini sangat erat hubungannya pada panggilan shalat (adzan), dimana terdapat kalimat “Hayya ‘alal falaah…..”, marilah menuju kemenangan (kebahagiaan).

Yaaa. Demikianlah adanya, dengan istiqamahnya penegakkan shalat, sudah seharusnya kita ummat Islam, memperoleh kemenangan, meraih kebahagiaan. Bila tidak, berarti perlu kita cermati ulang, kaji ulang dan evaluasi atas kualitas shalat kita. Perintah dan janji serta ketetapan Allah tidak mungkin diingkari atau meleset sedikitpun. Kitalah sebagai insan yang penuh dengan khilaf dan dosa, yang menjadi sebab utama tidak terpenuhinya janji dan ketetapan Allah tersebut. Terima kasih sudah berkunjung, dan semoga mendapat manfaat dalam ilmu ini. Jangan lupa baca kajian yang lainnya untuk lebih mengulas lebih banyak lagi tentang Ilmu Numerik Al-Qur'an.

Cara Belajar Al-Qur'an dan Terjemahan | Daftar Urutan Surat Al-Qur'an dan Artinya

Selamat berjumpa kembali para saudara saudari pembaca setia Fsq Daqa Seroja, kali ini kami berbagi sedikit artikel berjudul Daftar Urutan Surat Al-Qur'an dan Artinya, yaitu tentang pembahasan urutan  surat dalam Al-Qur'an , nama surat, arti surat, dan jumlah ayatnya. Al-Qur'an yang terdiri dari 114 surat dan 6236 ayat yang terbagi dalam 30 Juz, hal ini dipahami sebagai bentuk untuk memudahkan target pembacaan ayat suci Al-Qur'an.


Mari kita simak bersama-sama dibawah ini, berikut Daftar urutan surat Al-Qur'an dan Artinya :



NO
NAMA SURAT
ARTI SURAT
JUMLAH AYAT
1
Pembukaan
7
2
Sapi betina
286
3
Keluarga Imran
200
4
Wanita
176
5
Hidangan
120
6
Binatang ternak
165
7
Tempat tertinggi
206
8
Rampasan perang
75
9
Pengampunan
129
10
Yunus
109
11
Huud
123
12
Yusuf
111
13
Guruh
43
14
Ibrahim
52
15
Batu
99
16
Lebah
128
17
Perjalanan di malam hari
111
18
Gua
110
19
Maryam
98
20
Thaha
135
21
Nabi-nabi
112
22
Haji
78
23
Orang-orang yang beriman
118
24
Cahaya
64
25
Pembeda
77
26
Para penyair
227
27
Semut
93
28
Cerita-cerita
88
29
Laba-laba
69
30
Bangsa Rumawi
60
31
Keluarga Luqman / Bijaksana
34
32
Sujud/Batasan
30
33
Golongan yang bersekutu
73
34
Kaum Saba' / kaum pencari
54
35
Pencipta
45
36
Yaa siin
83
37
Yang bershaf-shaf
182
38
Shaad
88
39
Rombongan-rombongan
75
40
Orang yang beriman
85
41
Yang dijelaskan
54
42
Musyawarah
53
43
Perhiasan
89
44
Kabut
59
45
Yang bertekuk lutut
37
46
Bukit-bukit pasir
35
47
Nabi Muhammad SAW.
38
48
Kemenangan
29
49
Kamar-kamar
18
50
Qaaf
45
51
Angin yang menerbangkan
60
52
Bukit
49
53
Bintang
62
54
Bulan
55
55
Yang Maha Pemurah
78
56
Hari Kiamat
96
57
Besi
29
58
Wanita yang mengajukan gugatan
22
59
Pengusiran
24
60
Perempuan yang diuji
13
61
Barisan
14
62
Hari Jum'at
11
63
Orang-orang munafik
11
64
Hari ditampakkan segala kesalahan
18
65
Talak
12
66
Mengharamkan
12
67
Kerajaan
30
68
Kalam
52
69
Hari kiamat
52
70
Tempat-tempat naik
44
71
Nabi Nuh
28
72
Jin
28
73
Orang yang berkemul
20
74
Orang yang berselimut
56
75
Hari Kiamat
40
76
Manusia
31
77
Malaikat-malaikat yang diutus
50
78
Berita besar
40
79
Malaikat yang mencabut nyawa
46
80
Ia bermuka masam
42
81
Menggulung
29
82
Terbelah
19
83
Orang-orang yang curang
36
84
Terbelah
25
85
Gugusan bintang
22
86
Yang datang di malam hari
17
87
Yang paling tinggi
19
88
Hari pembalasan
26
89
Fajar
30
90
Negeri
20
91
Matahari
15
92
Malam hari
21
93
Waktu matahari sepenggalan naik
11
94
Melapangkan
8
95
Buah tin
8
96
Segumpal darah
19
97
Kemuliaan
5
98
Bukti
8
99
Kegoncangan
8
100
Kuda perang yang berlari kencang
11
101
Hari Kiamat
11
102
Bermegah-megahan
8
103
Masa
3
104
Pengumpat
9
105
Gajah
5
106
Suku Quraisy
4
107
Barang-barang yang berguna
7
108
Nikmat yang banyak
3
109
Orang-orang kafir
6
110
Pertolongan
3
111
Gejolak api
5
112
Memurnikan Keesaan Allah
4
113
Waktu subuh
5
114
Manusia
6


Demikian sekilas informasi tentang daftar urutan surat Al-Qur'an dan artinya, baca juga artikel kami yang lain untuk lebih mengena tentang Cara Memahami tanda-tanda Alloh Lewat Al-Qur'an. Semoga bermanfaat dan bisa diambil pelajaran yang positif. Terima kasih sudah berkunjung di blog kami.

Popular Posts